Menguak Kisah Kelam Orang Rantai di Kota Sawahlunto

Batu nisan Orang Rantai
Sumber :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah

VIVA.co.id – Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menyimpan banyak sejarah dan misteri masa lalu. Sejarahnya tidak akan lepas dari cerita kisah kelam Orang Rantai.

Orang Rantai merupakan pekerja tambang batubara yang berasal dari penduduk setempat, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Seperti dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali, bahkan ada juga yang dari Hindia Belanda.

Dahulu ada ribuan Orang Rantai, yang dipekerjakan oleh Pemerintah Hindia Belanda di lokasi tambang batubara Sawahlunto, salah satunya Lubang Tambang Mbah Soero. Sebagian besar merupakan tahanan politik maupun tahanan dengan kasus kriminal dari berbagai penjara di Indonesia.

Agar tidak melarikan diri, seluruh pekerja tambang tersebut diikat menggunakan rantai pada bagian kedua kaki, yang saling mengikat antara tahanan satu dengan yang lainnya. Berkat Orang Rantai pula, Pemerintah Hindia Belanda pada masa lampau, mampu mengeruk emas hitam dari perut bumi Kota Sawahlunto.

Tak sedikit Orang Rantai pada masa itu tewas mengenaskan, karena terus dipaksa bekerja menggali tambang batubara tanpa dilengkapi dengan peralatan yang memadai untuk menghindari dampak bahaya gas methan yang ada. Bahkan tak hanya itu saja, setiap hari Orang Rantai hanya diberi makan seadanya.

Orang Rantai yang meninggal, baik karena sakit maupun akibat bekerja, dikubur tanpa ada nama dan hanya diberikan nomor pada batu nisan. Mereka dikuburkan oleh Pemerintah Hindia Belanda di beberapa tempat diantaranya kawasan Air Dingin.

Nomor pada batu nisan ini merupakan nomor tato yang diberikan oleh kolonial belanda pada saat Orang Rantai datang ke Sawahlunto. Tato inilah yang akhirnya menjadi identitas Orang Rantai dan bahkan sampai mereka meninggal. Sampai saat ini belum diketahui siapa nama dibalik nomor-nomor tato tersebut.

Kumpulan nisan Orang Rantai di Kota Sawahlunto ini memiliki dua tipe. Tipe pertama berbentuk persegi panjang, pada bagian atas berbentuk prisma. Tipe kedua juga berbentuk persegi panjang, dan pada bagian atas berbentuk lancip, serta memiliki kuping persegi empat yang terdapat pada tulisan angka.

Tipe pertama memiliki angka tiga digit, sedangkan tipe kedua memiliki angka empat digit. Nisan-nisan ini terbuat dari beton dengan kondisi sebagian masih terawat dengan baik.

Pemerintah setempat melalui Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman mencoba mengumpulkan kembali nisan tersebut. Sedikitnya sudah ratusan nisan Orang Rantai dengan beragam nomor identitas dikumpulkan dan disimpan di Museum Goedang Ransoem.

Kumpulan batu nisan Orang Rantai

Masih banyak misteri

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kota Sawahlunto, Efri Yanto mengatakan, Pemerintah Kota Sawahlunto saat ini tengah berusaha menguak tabir misteri Orang Rantai dengan terlebih dahulu mengumpulkan dan mengindentifikasi, serta mencari referensi yang relevan, baik di Sawahlunto maupun di tempat lain, termasuk juga di Negara Belanda.

"Hingga saat ini, sejarah tentang Orang Rantai ini belum sepenuhnya terkuak. Masih banyak misteri yang terpendam yang belum terungkap secara jelas. Maka dari itu, kita terus berupaya menguak tabir itu dengan cara mengumpulkan nisan Orang Rantai terlebih dahulu," katanya.

Di samping itu lanjut Efri, pihaknya masih yakin, jika di Belanda saat ini masih banyak benda-benda peninggalan sejarah dan dokumen yang memiliki kaitan erat dengan kota Sawahlunto, termasuk salah satunya tentang Orang Rantai. Untuk itulah pihaknya juga berencana menelusuri itu hingga ke Belanda.

Genjot Wisata Bahari, Sumbar Bisa Jadi Destinasi Unggulan di Sumatera

"Kita terus mencari tahu apakah ada benda peninggalan sejarah yang dibawa Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu atau tidak. Kita akan berusaha untuk itu," ucapnya.

Efri menambahkan, jika ditemukan ada benda sejarah yang berkaitan erat dengan Sawahlunto di Belanda, maka pihaknya akan mengupayakan agar benda tersebut dapat dibawa pulang ke Sawahlunto. Di samping menambah daftar koleksi, benda atau dokumen tersebut juga bisa menambah catatan sejarah tentang Sawahlunto.

Ada Destinasi Baru, Kampung Warna-warni Bernuansa Jokowi
Pemandangan objek wisata Batu Runciang di Desa Silungkang Oso, Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu, 6 April 2019.

Virus Corona Belum Berdampak Serius terhadap Pariwisata Sumbar

Awal tahun dinilai memang low season yang sepi wisatawan.

img_title
VIVA.co.id
13 Maret 2020