viva.co.id

  • img_title
  • Miqat dan Berihram

    Miqat dalam bahasa Arab berarti waktu. Dalam istilah haji dan umrah, miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji dan umrah. Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji, wajib berihram, bagi laki-laki mengenakan pakaian tidak berjahit dan bagi perempuan dilarang menutup muka dan telapak tangan, dilanjutkan dengan membaca niat.

    Miqat ada dua jenis. Pertama, Miqat Zamani, yakni batas yang ditentukan berdasarkan waktu. Untuk ibadah haji, miqat bermula pada bulan Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Sedangkan untuk umrah, miqat Zamani bermula sepanjang tahun saat umrah dapat dilaksanakan. Kedua, Miqat Makani, yakni batas yang ditentukan berdasarkan lokasi, tempat seseorang harus memulai niat Ihram sebelum melintasi tanah haram dengan niat hendak melaksanakan ibadah umrah atau haji.

    Adapun umrah dalam haji dilaksanakan berdasarkan jenis hajinya, yakni Ifrad, Qiran dan Tamattu. Jemaah Indonesia kebanyakan melaksanakan haji Tamattu. Di mana umrah dilaksanakan terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan haji.

  • img_title
  • Wukuf di Arafah

    Wukuf atau berdiam diri di Arafah merupakan salah satu rukun haji. Dilakukan pada waktu antara tergelincirnya matahari (tengah hari) 9 Dzulhijjah sampai matahari terbenam. Tanpa wukuf di Arafah maka haji seseorang tidaklah sah.

    Keutamaan Arafah tertuang dalam sabda Nabi Muhammad SAW, "Doa yang paling afdal adalah doa di hari Arafah." Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, "Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hambanya dari neraka kecuali hari Arafah."

    Di mana letak Arafah? Padang pasir yang dikelilingi bukit-bukit batu berbentuk setengah lingkaran ini berada 25 km sebelah tenggara Kota Mekah. Sehari-hari gurun yang diselingi beberapa pohon ini tidak berpenghuni. Denyut Arafah baru akan terasa menjelang puncak haji 9 Dzulhijjah. Saat itu jutaan umat muslim dari penjuru dunia bergerak menuju Arafah untuk melaksanakan puncak haji, wukuf.

  • img_title
  • Bermalam di Muzdalifah

    Muzdalifah merupakan daerah terbuka di antara Mekah dan Mina. Jemaah haji bermalam atau berhenti sejenak di Muzdalifah dengan berdoa atau berzikir hingga melewati tengah malam pada 10 Dzulhijjah. Di Muzdalifah jemaah haji mengumpulkan kerikil untuk melempar jumrah.

    Namun karena jalur yang harus dilalui itu biasanya macet akibat padatnya arus kendaraan, banyak jemaah mabit berlama-lama sambil menunggu arus melonggar.

    Sekadar diketahui, muzdalifah adalah bagian dari tempat syiar umat Islam dan termasuk dalam batasan Tanah Haram. Dalam Alquran, Allah SWT menamakan Muzdalifah dengan nama Masy'aril Haram.

  • img_title
  • Lempar Jumrah di Mina

    Mina merupakan hamparan padang pasir yang panjangnya 3,5 km. Lokasinya di kawasan berbukit-bukit antara kota Mekah dan Muzdalifah.

    Saat musim haji, jutaan jemaah akan 'bermukim' dan bermalam di Mina selama 3-4 hari, dimulai sejak 8 Dzulhijjah, sehari sebelum wukuf di Arafah. Saat itu jemaah yang melaksanakan tarwiyah, bermalam sehari semalam penuh sehingga dapat melakukan salat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh.

    Setelah salat subuh 9 Dzulhijjah, mereka berangkat wukuf pada siang hari ke Arafah, dan malamnya masuk kembali ke Mina dan tinggal di sini sampai tanggal 12 atau 13 Dzulhijjah untuk melempar jumrah yang merupakan wajib haji.

  • img_title
  • Tawaf Ifadah

    Tawaf ifadah merupakan salah satu rukun haji. Secara harafiah tawaf merupakan gerakan mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali, di mana tiga putaran pertama dilakukan dengan lari-lari kecil dan selanjutnya berjalan biasa.

    Tawaf dimulai dan berakhir di sudut Hajar Aswad. Gerakan tawaf berlawanan arah dengan jarum jam. Jadi ketika tawaf, posisi Ka'bah ada di sebelah kiri, bukan di kanan.

    Para ulama sepakat menetapkan bahwa tawaf ifadah sebagai rukun haji dan tidak boleh ditinggalkan karena dapat membatalkan haji. Tawaf ini juga disebut tawaf ziarah atau tawaf rukun.

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5