- VIVA/Tri Saputro
![]()
Sumarsih tak khawatir jika perjuangannya dan kasus pelanggaran HAM berat akan dilupakan. Ia yakin, konsistensinya untuk terus bersuara akan menjaga api tetap menyala. Bahkan kepada generasi milenial yang sudah mulai terputus pada sejarah politik tahun 1990-an, ia terus berusaha berjuang untuk mengingatkan.
"Saya akan terus mengingatkan kepada anak-anak muda atau generasi mendatang tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia, yakni terkait dengan penegakan supremasi hukum. Selain dengan melakukan Aksi Kamisan, kami juga melakukan aksi atau sosialisasi di media sosial juga. Harapan kami anak-anak muda generasi mendatang juga mengetahui apa yang terjadi pada bangsa kita ini," ujarnya.
Menurut pengakuannya, saat ini sudah banyak anak-anak muda yang antusias bergabung atau ingin mengetahui tentang Aksi Kamisan. Dan Aksi Kamisan itu sekarang tidak hanya dilakukan di Jakarta saja, tapi sudah dilakukan di beberapa kota di Indonesia. "Jadi Aksi Kamisan ini juga akan menjadi pembelajaran bagi anak-anak muda kita, bahwa inilah wajah penegakan hukum di Indonesia hari ini," ujarnya menambahkan.
Ia bercerita, JSKK juga pernah bekerja sama dengan Asosiasi Guru Sejarah Seluruh Indonesia, dengan meminta anak-anak SMA untuk melakukan penelitian tentang masa Orde Baru, masa reformasi, dan penelitian mengenai kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya, seperti kasus ‘65, Semanggi I, Semanggi II, dan Trisakti. Sudah ada beberapa mahasiwa yang tertarik membuat skripsi tentang kasus Tanjung Priok, juga tentang Aksi Kamisan.
Tak Lekang Diretas Zaman
Perjuangan Sumarsih yang sudah mencapai 20 tahun melintasi berbagai generasi. Koordinator Kontras, Yati Handayani mengaku salut dengan perjuangan Sumarsih. Yati sudah mengenal Sumarsih sejak ia masih berstatus mahasiswa. Menurutnya, Sumarsih sudah melampaui dirinya sebagai korban.
"Dia sudah menjadi survival, penyintas, juga sudah menjadi seorang pembela HAM, dan yang paling kuat dari Ibu Sumarsih adalah konsistensi dan persistensinya," ujar Yati kepada VIVA, Jumat, 2 Maret 2018.
Yati menuturkan, Sumarsih sangat konsisten dan persisten. Ia tidak pernah tergoyahkan oleh situasi apapun dan kondisi apa pun. Ia tak pernah berhenti menyuarakan kasusnya dan juga kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya.