- VIVA/Tri Saputro
"Di meja makan selalu diletakkan satu piring khusus untuk Wawan, dan juga ada satu bangku di sana. Ia juga selalu ke makam wawan membawa bunga secara rutin dan tidak berhenti dilakukan setiap Sabtu-Minggu. Bagi saya, itu bukan hanya sekedar ritual tapi itu adalah bentuk konsistensi dan persistensi dia untuk melawan lupa baik untuk dirinya maupun untuk bangsa ini."
![]()
Sudah 20 tahun Sumarsih berjuang mencari keadilan. Selama itu pula Sumarsih hanya mendapat janji-janji. Tapi ia tak surut. Sumarsih konsisten. Setiap hari Kamis, ia dan sejawatnya di JSKK akan berada di sekitar istana. Mereka mengenakan payung dan pakaian serba hitam. Berdiri dan diam di depan istana untuk selalu mengingatkan orang-orang, bahwa ada sejarah yang tak selesai di negeri ini.Â
Bagi Sumarsih, kasus pelanggaran HAM berat, termasuk kasus Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II menjadi barometer penegakan hukum di Indonesia bagi siapa pun presiden negeri ini. Dalam pandangan Sumarsih, martabat Indonesia saat ini sangat rendah, karena hukumnya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.Â
Sumarsih sudah memutuskan untuk terus melanjutkan perjuangannya. "Semua saya lakukan karena cinta. Cinta itu mengandung semangat dan harapan," ujarnya.
Ia mencintai Wawan, tapi cintanya sudah bertransformasi pada keteguhan untuk mencintai sesama manusia dalam penegakan hukum dan HAM, seperti yang telah diperjuangkan oleh Wawan dan teman-temannya. Dan atas nama Cinta, Sumarsih akan tetap bertahan. (mus)