- Dok. Facebook Indonesia
Di atas Indonesia ada AS, India, dan Brazil. Total pengguna aktif Facebook di seluruh dunia sudah mencapai hampir dua miliar. Besarnya pengguna membuat Facebook didapuk sebagai raksasa media sosial.
Terbongkarnya kasus kerentanan data Facebook bermula dari pengakuan Cambridge Analitica, sebuah firma analisis data yang juga konsultan kemenangan Trump. CA membeberkan soal kelalaian FB menjaga data privasi pelanggan. Lembaga ini membobol dan menyalahgunakan data dari 50 juta pelanggan Facebook di AS. Data itu mereka gunakan untuk memprediksi dan memengaruhi konstituen dalam proses pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 lalu.
Cambridge Analytica menggunakan informasi pribadi yang diambil tanpa izin pada awal 2014 untuk membangun sistem yang dapat mengungkapkan profil pemilih AS sehingga mereka dapat ditargetkan dengan iklan politik pribadi. Hal ini yang diduga berhasil mengantarkan Trump menuju kursi Presiden AS.
Pencurian data ini sangat detil hingga mengetahui apa yang menjadi kesukaan pengguna, bahkan gadget yang digunakan pengguna facebook untuk mengakses media sosial milik Mark Zuckerberg itu. Cambridge Analitica, firma yang berbasis di Inggris ini diduga juga menggunakan pola yang sama saat referendum Brexit.
Penyalahgunaan data yang dilakukan oleh Cambridge Analitica ini membuat kepercayaan publik kepada Facebook ambruk. Publik pengguna Facebook tak menduga, data pribadi mereka ternyata mudah diakses dan diselewengkan oleh pihak ketiga. Padahal, seperti diungkap Edward Snowden melalui akun Twitternya, Zuckerberg pernah berjanji akan menjaga kerahasiaan data penggunanya. Mantan karyawan CIA itu mengupload wawancara Zuckerberg dengan Laura Trevelyan dari BBC, sembilan tahun lalu.
"Semua orang mendapat pengaturan privasi, yang selalu menjadi salah satu pembeda besar Facebook (dengan platform lain) dan apa yang membuatnya menjadi layanan yang sangat berbeda bagi orang-orang," ujar Zuckerberg kala itu. Sayang, perusahaan besar itu gagal memenuhi janjinya.
![]()
Pengaturan kebijakan di media sosial ini menyatakan, bahwa mereka akan menyimpan salinan konten pengguna yang diarsipkan. Bahkan meski pengguna telah menghapus akun mereka, Facebook tetap bisa menyalin konten yang telah masuk ke database mereka.