- Dok. Facebook Indonesia
Facebook tak langsung mengomentari kasus ini. Setelah senyap selama beberapa hari, akhirnya pendiri Facebook Mark Zuckerberg angkat bicara. Melalui akun personalnya, ia meminta maaf atas kebocoran yang terjadi. Tak cukup hanya melalui akun, ia juga memasang iklan satu halaman di beberapa surat kabar besar, seperti New York Times, Wall Street Journal, Washington Post, serta media di Inggris.
Iklan itu didahului judul besar, "We Have a Responsibility to Protect your Information, if We Can't, We Don't Deserve It." Isinya adalah tulisan sebanyak lima paragraf dengan tanda tangan Zuckerberg yang menyampaikan penyesalan dan penjelasan.
Kampanye Tutup Facebook
Tersimpannya data pelanggan bermula dari permintaan yang disampaikan Facebook saat seorang pengguna menautkan ponselnya dengan fitur Facebook pada hp android. Jejaring sosial itu akan meminta izin akses langsung ke pengguna. Dalihnya adalah peningkatan algoritma rekomendasi teman. Dari sinilah Facebook memiliki akses untuk merekam riwayat penggunaan telepon dan pesan singkat (sms).
Terbongkarnya pencurian dan penyalahgunaan data pengguna Facebook, yang harusnya dijaga ketat, menimbulkan kecemasan. Setelah Brian Acton, pendiri Whatsapp mempersoalkan keamanan Facebook dan menggunakan tagar #DeleteFacebook dan retweet ribuan kali, laman Twitter ramai dengan tagar yang sama.
Kekhawatiran dan kecemasan yang wajar. Jika data 50 juta pengguna Facebook di AS bisa dicuri, maka ratusan juta pengguna Facebook di seluruh dunia mungkin sedang menghitung hari.
Banyaknya pengguna Facebook di Indonesia ternyata tak membuat warga negeri ini khawatir. Media sosial yang interaktif itu sudah kadung membuat banyak orang jatuh cinta. Komarudin, Sabiq dan Indah hanya sebagian kecil dari jutaan pengguna Facebook di Indonesia yang memilih bertahan.
Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani mengaku sudah melayangkan surat ke Facebook untuk meminta kejelasan soal ini, dan apakah ada data pengguna Facebook dari Indonesia yang juga bocor. Tak hanya Indonesia, menurut Semuel, pihak Facebook kebanjiran pertanyaan yang sama dari berbagai parlemen di seluruh dunia.
Menurut Semuel, apa yang terjadi bukan pencurian. "Jika dianalogikan, mereka bukan masuk nyolong. Mereka masuk secara legal, kulonuwun tapi pas masuk ke dalam kamar tidur, ngacak-ngacak juga," ujarnya kepada VIVA.