- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Tapi kesabaran mereka berbuah pahit. Seolah tak mempertimbangkan perasaan PKS, Gerindra lebih dulu melakukan deklarasi mendukung Prabowo menjadi capres. PKS dan PAN kecolongan.
PKS bersikukuh dengan sembilan nama. Jika wartawan bertanya, PKS memberi jawaban bahwa mereka komit dengan rekomendasi dari Majelis Syuro. Tak ada kalimat yang disampaikan bahwa mereka mendukung pencapresan Prabowo. Malah nama Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan yang sempat disandingkan dengan calon-calon dari PKS.
Kejutan besar kedua adalah pendekatan Partai Demokrat dan Gerindra yang akhirnya berbuah kesepakatan koalisi. Di luar prediksi banyak pengamat, Demokrat tiba-tiba bergerak aktif merapat ke Partai Gerindra. SBY dan Prabowo saling berkunjung, lengkap dengan petinggi partai masing-masing.
Beberapa hari lalu, usai pertemuan empat mata dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan Prabowo Subianto adalah calon presiden 2019-2024. "Kami datang dengan satu pengertian, Pak Prabowo adalah calon presiden kita," kata SBY dalam jumpa pers di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran, Jakarta, Senin, 30 Juli 2018.
Amunisi Melimpah, Modal Kuat Demokrat
Pernyataan SBY dan fakta menguatnya intensitas komunikasi politik antara Partai Demokrat dan Gerindra membuat koalisi Gerindra-PKS-PAN yang sebelumnya terlihat sangat solid kini seperti tercerai berai. Demokrat yang masuk dengan 'amunisi' lebih tentu memberi tambahan tenaga untuk Gerindra dan Prabowo. Meski bagi PAN dan PKS, gabungnya Demokrat bisa saja menjadi “pesaing” buat mereka. Sebab, Demokrat masuk koalisi dengan segala kelebihannya.
Direktur Indonesian Watch for Democracy (IWD) Endang Tirtana menilai, masuknya Demokrat ke Gerindra adalah hal yang sangat strategis. "Ini koalisi alternatif di tengah koalisi yang hampir solid antara Gerindra, PKS dan PAN. Munculnya Demokrat sebagai mitra alternatif tentu sangat strategis bagi Prabowo. Namun tentu ada yang bakal gigit jari, dalam hal ini bisa jadi PKS dan PAN," kata Endang, Sabtu, 28 Juli 2018.
Endang menilai, koalisi Gerindra-Demokrat yang mungkin akan menduetkan Prabowo-AHY itu termasuk yang paling ideal ketimbang dengan nama-nama yang disodorkan PAN atau PKS. "Gerindra tidak akan kehilangan magnet elektoralnya dengan menggandeng Demokrat, sementara demikian pula sebaliknya Demokrat juga bisa mendongkrak elektabilitasnya akibat kebanyakan berada di posisi netral, apalagi ada AHY sebagai magnet baru," ujarnya menambahkan.