- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Sementara bagi PAN, meski masih berharap Ketua Umum Zulkifli Hasan yang akan terpilih menjadi pendamping Prabowo, namun PAN masih membuka opsi untuk dialog agar ada konsensus. Wasekjen PAN Edi Suparno mengatakan PAN menganut konsep open minded.
"Jadi pikiran harus terbuka saat duduk bersama, meja kosong. Dalam artian jangan bawa apa apa, wapres dari gue ya, logistik elo, nah itu jangan. Jadi mari kita gelar semua opsi yang ada. Kita diskusikan bersama-sama. Kalau dari awal sudah mengatakan saya punya prasyarat mutlak ini, itu, kalau engga saya balik kanan. Ya, kita akan sulit cari konsensus. Apalagi ini konsensusnya kolektif akan sulit semua mengiyakan," ujarnya.
![]()
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) berbincang dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan (kanan) di Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Walaupun tak menutup kemungkinan adanya koalisi baru, namun Edi memastikan kemungkinan bertahan dalam koalisi dengan Gerindra tetap terbuka. Syaratnya adalah ideologi bangunan koalisi masih tegak, dan masih memiliki cara pandang yang sama, juga misi yang diemban juga masih sama.
"Apalagi misi yg diemban untuk kepentingan lebih besar lagi, misal kita tujuannya dari pemerintahan untuk memperkecil jurang kesenjangan, kedaulatan negara diatas segalanya, evaluasi kontrak kontra karya yang merugikan, tentu akan kita pertahankan karena itu jadi daya tarik bagi kita untuk memperjuangkannya," ujar Edi menegaskan.
Sabtu, 4 Agustus 2018, pendaftaran capres dan cawapres Pemilu 2019 mulai dibuka di Kantor Komisi Pemilihan Umum. Batas terakhir pendaftaran adalah tanggal 10 Agustus 2018. Selama tujuh hari ke depan masih banyak kemungkinan bisa terjadi, dan dalam politik apa pun bisa terjadi. Pertarungan politik menuju RI 1 tentu jadi makin menarik, dan sengit. (ren)