- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan mengakui, masuknya Demokrat membawa banyak kelebihan yang menguntungkan Gerindra. Pertama, elektabilitas AHY lebih tinggi jika dibandingkan Aher, Anis Baswedan, dan Gatot Nurmantyo, yang disebut sebagai kandidat cawapres Prabowo.
Kedua, jika Demokrat bergabung, maka Demokrat akan menjadi partai terbesar kedua setelah Gerindra. Ketiga, selain memiliki suara partai yang hampir seimbang dengan Gerindra, SBY punya pengalaman memimpin indonesia dua periode, dan itu nilai penting untuk memberikan kontribusi pada pemenangan Prabowo jika AHY menjadi cawapresnya.
"Terakhir yang tidak kalah penting, bahkan ini bisa jadi yang paling penting, SBY mempunyai kemampuan besar untuk menyediakan logistik yang lebih besar dibandingkan partai-partai lain untuk membantu prabowo untuk memenangkan pertarungan 2019 nanti," ujar Djayadi Hanan kepada VIVAÂ Kamis, 2 Agustus 2018.
Jadi, menurut Djayadi, dengan bergabungnya Demokrat ke Gerindra, Prabowo seperti langsung mendapat tiket yang cukup. Itu sebabnya, daya tawar Demokrat menjadi tinggi.
![]()
Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya saat memaparkan survei nasional konstelasi elektoral Pilpres 2019 di Jakarta.Â
Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya yakin, masuknya SBY ke Gerindra sudah dengan pertimbangan matang. SBY, menurut Yunarto, sedang menatap 2024. Di mana di tahun tersebut usia Agus Harimurti Yudhoyono sudah matang dan pengalaman politik sudah makin mumpuni.
Namun SBY tak akan datang tanpa harap. Ia tak yakin Demokrat datang hanya sekadar sebagai partai pendukung. "SBY memiliki jaringan logistik besar, jaringan politik, dan jaringan finansial besar dan infrastruktur politik yang dimiliki sebagai presiden dua periode. Itu akan membuat SBY 'all out' dibandingkan hanya menjadi partai pendukung. Dari misalnya Prabowo-Anies atau Prabowo-Salim Segaf atau nama-nama lainnya," ujar Yunarto.
Sedangkan pengamat politik Gun Gun Heryanto mengaku tak kaget dengan pilihan Demokrat untuk bergabung dengan Gerindra. Sebab, sejak awal sudah terlihat bahwa figur SBY dan Megawati sulit bertemu. Selain itu, jika Demokrat masuk dalam barisan pendukung Jokowi, maka posisi AHY tak bisa melesak menjadi kandidat cawapres. Sebab, para ketua partai koalisi pendukung Jokowi jauh lebih matang dan partai mereka juga memiliki kekuatan yang seimbang dengan Demokrat.