SOROT 517

Mengejar Suara Perempuan di Pemilu

Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Sementara itu dari sisi marketing politik, Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan menjelaskan, alasan di balik daya tarik kaum perempuan menjadi target untuk mendongkrak perolehan suara. Menurutnya, istilah emak-emak tersebut cenderung ditujukan kepada para ibu rumah tangga. Djayadi membeberkan empat hal betapa potensi suara kaum ibu memang harus menjadi perhatian.

img_title Hilang Setahun, Kerangka Mozza Gadis 18 Tahun Asal Semarang Ditemukan di Jurang Tol! Pembunuhnya Kenalan dari TikTok

Pertama, jumlah pemilih yang berkategori ibu rumah tangga hampir 30 persen dari total pemilih berdasarkan data riset SMRC. Artinya, 60 persen dari pemilih perempuan terdiri dari kaum ibu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Itu kan jumlahnya banyak sekali. Dengan jumlah yang banyak itulah maka dia pasti menjadi rebutan semua kandidat bukan hanya kandidat pemilihan presiden, tapi juga semua kandidat yang akan maju baik sebagai anggota legislatif maupun rebutan partai-partai," katanya kepada VIVA.

img_title Tak Merasa Istimewa Jadi Gubernur BI Perempuan Pertama, Destry Beri Contoh Sosok Kartini

Alasan kedua, terminologi emak-emak merupakan representasi keadaan dan kebutuhan ekonomi khususnya kebutuhan sehari-hari.  Oleh karena itu aspirasi para ibu bisa diklaim sebagai potret kehidupan nyata ekonomi keluarga. Djayadi menilai, apabila kubu Prabowo menggunakan narasi emak-emak mengeluh soal harga sembako, maka kubu Jokowi bisa saja menghadapinya dengan narasi bukti bahwa emak-emak justru menghargai kinerja Jokowi selama ini dengan menampikan hal tersebut dalam kampanye mereka.

Ketiga, dia menilai bagaimana pun sedikit banyak kaum ibu bisa memengaruhi suara dalam keluarganya walaupun di luar rumah tidak ikut dalam politik praktis.

img_title Pengakuan Tegar Sopir Jasa Angkut Curiga Bawa Kardus Berisi Mayat Perempuan di Bandung

Keempat, pemilih milenial saat ini juga diperhitungkan cukup banyak. Namun sebagai generasi muda, ada saja dari mereka yang bisa mengikuti aspirasi pilihan sang ibu. Terutama pemilih  usia masih sangat muda, umur 25 tahun ke bawah.

"Itu banyak sekali terutama pemilih milenial yang masih kuliah atau masih sekolah di tingkat SMA. Nah biasanya pemilih milenial yang masih ikut atau tinggal bersama keluarga atau tinggal bersama emaknya itu sangat dipengaruhi sama emaknya dalam urusan-urusan politik," kata Djayadi.

Bisa Bahasa Inggris

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Prediksi bakal proaktifnya perempuan termasuk kaum ibu untuk memenangkan pilihan masing-masing memang tergambar dari beberapa relawan perempuan yang siap memenangkan capres dan cawapres idolanya masing-masing. Rina (35) misalnya, warga Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur ini mengatakan dia akan jor-joran mendukung Prabowo-Sandi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut