- ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Namun dia mengatakan, sekalipun perempuan menjadi salah satu kalangan yang tengah hangat menjadi target, namun angka partisipasi para pria juga tak boleh dinafikan. Bahkan menurut Arief angka partisipasi ke TPS dari dua kaum ini hampir sama. "Kayaknya sama," katanya.
Subjektif dan Militan
Psikolog Sani Budiantini Hermawan turut membaca fenomena makin gencarnya para calon menggaet suara kaum perempuan. Menurutnya, hal tersebut tak mengherankan sama sekali. Selain jumlah kaum perempuan termasuk ibu cukup besar, mereka juga bisa memengaruhi orang-orang di sekitar mereka. Tak hanya di keluarga namun juga di pergaulan sehari-hari.
"Kalau ngomomg soal signifikan harus ada research tersendiri. Tapi menurut saya sangat efektif karena pengaruh ibu-ibu itu luar biasa di keluarga, di tetangga, di komunitas di pengajian dan sebagainya. Cukup berpengaruhlah diperebutkan, layak dimenangkan suara emak-emak ini,” kata Sani Budiantini.
![]()
Barisan emak emak demo di depan KPU
Dia mengklasifikasi kaum perempuan dalam dua bagian. Yang pertama, perempuan yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Kedua, kelas menengah ke atas. Yang juga menentukan menurut Sani adalah soal pendidikan. Apabila perempuan tersebut memiliki pendidikan tinggi maka akan cenderung berpikiran rasional dalam memilih pasangan capres dan cawapresnya.
Namun jika pendidikan cenderung rendah, maka akan rentan dengan penilaian subjektif. Uniknya, sekalipun penilaian tersebut subjektif, kaum ibu tetap militan terhadap pilihannya bahkan gencar mengajak orang lain untuk memilih calon yang sudah sukai.
"Contohnya dolar naik turun, pemerintah enggak benar, itu manut (kalangan bawah). Kalau menengah ke atas itu melihat ini pengaruh dari Amerika, ada pengaruh dari luar. Itu kan dia baca-baca berita baca data, mengkombinasi berbagai macam resource gitu. Menengah ke bawah itu kan 'Wah ini tambah susah tambah naik (harga) gitu kan'. Terus gampang diiming-iming, digembosin, sedikit diisukan langsung panas, gitu-gitu lah," katanya menjelaskan.
Namun pada realitanya, jumlah perempuan yang lebih emosional masih lebih banyak dibandingkan yang dianggap rasional. "Jadi sangat layak diperebutkan hati emak-emak ini,” ujar dia.