SOROT 521

Misteri Tsunami Indonesia

Sebuah kursi berada diantara bangunan yang ambruk dampak gempa dan tsunami di kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

"Alhamdulillah saya dapat ember tong sampah," ujar Firman mengisahkan pengalamannya menghadapi tsunami di program ILC tvOne, Selasa 2 Oktober 2018 lalu.

img_title Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

Firman terus mengucapkan syukur, karena selamat dari maut tsunami Palu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laut Longsor

img_title Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

Jumat, akhir pekan lalu menjadi duka nestapa bagi warga Palu dan Donggala. Gempa dan tsunami muncul memasuki petang hari.

img_title Gunung Anak Krakatau Erupsi, PVMBG Pastikan Tak Berpotensi Picu Tsunami

Gempa yang melanda Palu dan Donggala pada Jumat, 28 September 2018, menjelang maghrib itu sangat kuat. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut, magnitudo gempa tersebut mencapai 7,4 Skala Richter. Gempa tersebut menimbulkan tsunami di pesisir Pantai Palu. Dua peristiwa alam yang berbarengan itu mengakibatkan korban jiwa yang besar.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB merilis, per Jumat 5 Oktober 2018 pukul 14.00 WIB, 1.571 orang meninggal dengan rincian 144 korban jiwa di Donggala dan 1.352 jiwa di Palu, Sigi 62 orang, Parigi Moutong 12 orang dan Pasangkau Sulawesi Barat 1 jiwa; korban luka berat tercatat 2.549 orang, korban hilang 113 jiwa, tertimbun 152 orang, 66.238 rumah rusak. Gempa dan tsunami itu menyebabkan 70.821 jiwa mengungsi di 147 titik.

Aktivitas sosial di Palu dan Donggala juga lumpuh total. Listrik padam dan jaringan telepon yang tak berfungsi membuat sengsara warga semakin nyata. Komunikasi menjadi sulit, dan warga tak bisa beraktivitas dengan nyaman karena gelap. Jaringan telekomunikasi baru mulai pulih bertahap beberapa hari setelah gempa.

Warga mencari korban gempa dan tsunami yang tewas di RS Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu, 30 September 2018.

Korban tewas gempa dan tsunami di Sulteng

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Mudrik Rahmawan Daryono mengatakan, gempa dipicu dinamika pada Sesar Palu Koro. Sesar ini merupakan kategori sesar geser. Berdasarkan kajian LIPI, Palu dan sekitarnya beberapa kali dilanda gempa sejak berabad lampau. Hal ini erat kaitannya dengan Sesar Palu Koro yang melintasi Sulawesi Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penelitian Mudrik sejak 2011 mengindikasikan, Sesar Palu Koro masih aktif. Indikasinya, rentetan gempa besar dalam periode waktu tertentu.

Dalam penggalian tanah sedalam 15 sampai 20 meter yang pernah dilakukan, gempa besar pernah terjadi pada tahun 1285 dan 1415. Lapisan tanah lainnya mengindikasikan gempa pernah terjadi pada 1907, 1909, dan pada tahun 2012. Mudrik mendapati bahwa terjadi pergeseran alur sungai yang mengalir di atas patahan Palu Koro.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut