SOROT 521

Misteri Tsunami Indonesia

Sebuah kursi berada diantara bangunan yang ambruk dampak gempa dan tsunami di kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Alur sungai terpotong sejauh 510 meter dan naik 20 meter di bagian patahan terdekat dari Kota Palu. Di titik lainnya, sekitar Taman Nasional Lore Lindu yang dilewati patahan, alur sungai yang terpotong mencapai 585 meter dan mengalami penaikan setinggi 50 meter. "Ini akibat gempa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu," ujar Mudrik kepada VIVA.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Mudrik mengatakan, gempa terjadi akibat siklus yang berulang setiap periode tertentu. Akan tetapi, tidak mudah menentukan siklus gempa di setiap sesar yang membentang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gempa Palu dan Donggala berpusat di darat, namun kenapa bisa memunculkan tsunami? Belakangan analisis para ahli gempa dan tsunami dari Institut Teknologi Bandung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan, gempa memicu longsoran di dalam laut. 

img_title Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ada dua penyebab terjadinya tsunami. Pertama, longsoran sedimen sedalam 200-300 meter di dasar laut. Teluk Palu merupakan muara beberapa sungai sehingga menimbun endapan sendimen. 

Indikasi itu terlihat dari air yang mengalir. Saat tsunami awal, air masih terlihat jernih. Namun kemudian datang air dari laut yang bergelombang dan berwarna keruh. "Air keruh itu dipicu longsoran dasar laut Teluk Palu. Saat gempa terjadi longsor dan membangkitkan tsunami," katanya saat jumpa pers di kantornya, Sabtu 29 September 2018.

img_title Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

Kedua,tsunami di bagian luar Teluk Palu yang tidak sebesar akibat longsoran dasar laut. ?

Kondisi  masjid Akhram Babul Rahman rusak akibat gempa dan tsunami yang terjadi satu pekan lalu di Palu, Sulawesi Tengah

Masjid rusak akibat dihantam tsunami di Sulteng

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tsunami akibat longsoran bawah laut disebut dengan tsunamigenic submarine landslide. Pakar geologi Rovicky Putrohadi menjelaskan dalam laman Dongeng Geologi, longsoran bawah laut terjadi akibat getaran gempa pada lereng tepi samudera yang tak stabil pada kaki prisma akresi. 

Untuk terjadi sebuah longsoran bawah, harus ada syarat yakni adanya surut kritis. Di bawah laut, sudut lereng paling kritis berada di ujung paparan (shelf edge). Rovicky menuliskan, apabila lereng ini berada pada daerah jalur gempa, tentu saja sangat mudah terjadi longsor ketika ada sebuah getaran yang mengganggu. Itulah sebabnya, kata Rovicky, mengapa gempa dengan magnitudo kecil pun dapat memicu longsoran yang akan menyebabkan tsunami.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut