- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Alur sungai terpotong sejauh 510 meter dan naik 20 meter di bagian patahan terdekat dari Kota Palu. Di titik lainnya, sekitar Taman Nasional Lore Lindu yang dilewati patahan, alur sungai yang terpotong mencapai 585 meter dan mengalami penaikan setinggi 50 meter. "Ini akibat gempa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu," ujar Mudrik kepada VIVA.
Mudrik mengatakan, gempa terjadi akibat siklus yang berulang setiap periode tertentu. Akan tetapi, tidak mudah menentukan siklus gempa di setiap sesar yang membentang.
Gempa Palu dan Donggala berpusat di darat, namun kenapa bisa memunculkan tsunami? Belakangan analisis para ahli gempa dan tsunami dari Institut Teknologi Bandung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan, gempa memicu longsoran di dalam laut.Â
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ada dua penyebab terjadinya tsunami. Pertama, longsoran sedimen sedalam 200-300 meter di dasar laut. Teluk Palu merupakan muara beberapa sungai sehingga menimbun endapan sendimen.Â
Indikasi itu terlihat dari air yang mengalir. Saat tsunami awal, air masih terlihat jernih. Namun kemudian datang air dari laut yang bergelombang dan berwarna keruh. "Air keruh itu dipicu longsoran dasar laut Teluk Palu. Saat gempa terjadi longsor dan membangkitkan tsunami," katanya saat jumpa pers di kantornya, Sabtu 29 September 2018.
Kedua,tsunami di bagian luar Teluk Palu yang tidak sebesar akibat longsoran dasar laut. ?
![]()
Masjid rusak akibat dihantam tsunami di Sulteng
Tsunami akibat longsoran bawah laut disebut dengan tsunamigenic submarine landslide. Pakar geologi Rovicky Putrohadi menjelaskan dalam laman Dongeng Geologi, longsoran bawah laut terjadi akibat getaran gempa pada lereng tepi samudera yang tak stabil pada kaki prisma akresi.Â
Untuk terjadi sebuah longsoran bawah, harus ada syarat yakni adanya surut kritis. Di bawah laut, sudut lereng paling kritis berada di ujung paparan (shelf edge). Rovicky menuliskan, apabila lereng ini berada pada daerah jalur gempa, tentu saja sangat mudah terjadi longsor ketika ada sebuah getaran yang mengganggu. Itulah sebabnya, kata Rovicky, mengapa gempa dengan magnitudo kecil pun dapat memicu longsoran yang akan menyebabkan tsunami.