- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Dalam peta topografi dan batimetri laut serta peta kedalaman laut di Indonesia, wilayah laut Teluk Palu termasuk area pinggiran Paparan Sunda. Longsoran bawah laut juga bisa terjadi di area bukan ujung atau pinggiran paparan, namun kecenderungan itu tak terjadi di Indonesia. Rovicky menyebutkan, di Alaska, tsunami bisa terjadi akibat longsoran gunung es.
Rovicky menuturkan, Tsunami Palu akibat longsoran bawah laut perlu diteliti lebih dalam. Menurutnya perlu verifikasi melalui survei tambahan. "Kalau untuk yang di Palu ini, kita perlu mencari dari mana datangnya tsunami kali ini. Perlu survei. Verifikasinya harus dengan survei tambahan," ujarnya menambahkan.
Untuk proses tsunami secara umum, Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Dandi Prasetia mengatakan, melibatkan dinamika pada kerak bumi. Dia menjelaskan, kerak bumi berdinamika tak diam, mereka saling bertumbukan. Sewaktu-waktu sesar bergerak ada yang bergerak ke bawah dan ada yang bergerak ke atas. Perbedaan tinggi ini menyebabkan dispasitas air laut yang ada di atasnya.
"Nah itu menyebabkan gelombang. Gelombang itulah tsunami," ujarnya menjelaskan.
Penyebab Tsunami
Kepala Sub Bidang Info Gempabumi BMKG, Nova Heryandoko menjelaskan, dari sisi sains tsunami bisa terjadi prinsipnya karena ada perubahan di dasar laut. Dia menuturkan, gempa yang bisa memicu tsunami merupakan gempa yang bisa menimbulkan perubahan deformasi dasar laut yang terangkat. Pengangkatan dasar laut mengakibatkan perubahan kolom air di atasnya. Kondisi ini menimbulkan gelombang di perairan laut. Jika gelombang ini terjadi di laut dalam maka mengakibatkan tsunami dengan kecepatan 700 kilometer per jam.
Dia melihat, Sesar Palu Koro tak menimbulkan langsung tsunami. Namun gempa yang menggoyangkan sesar itu memicu longsoran di dasar laut. Tsunami akibat longsoran bawah laut merupakan salah satu jenis tsunami dilihat dari sisi penyebabnya.
Selain gempa dan longsoran bawah laut, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan tsunami. "Bisa juga karena gunung berapi seperti Letusan Gunung Krakatau, atau jatuhnya meteor," ujarnya.
Tsunami yang diakibatkan erupsi dahsyat Gunung Krakatau terjadi pada 26-27 Agustus 1883. Letusan pada akhir Agustus itu merupakan fase puncak erupsi Gunung Krakatau. Sebelumnya fase awal letusan dahsyat Gunung Krakatau telah terjadi sejak pertengahan Mei 1883.