- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Dalam babad ini, pada 1618 saat Kerajaan Mataram diperintah oleh Sultan Agung (1613-1645), terjadi peristiwa alam dashyat yakni laut mengamuk. Babad ing Sengkala menuliskan kemungkinan tsunami dahsyat melanda wilayah pusat Mataram atau area pantai selatan, yang mana menjadi singgasana Ratu Laut Kidul.Â
Reid menuliskan, pendukung Sultan Agung meyakini tsunami dahsyat tersebut bukan karena ketidakmampuan pemerintahan Sultan Agung menghadapi alam, namun bencana dahsyat ini datang sebagai tanda kekuatan supranatural penguasa laut selatan. Jejak tsunami dahsyat amukan Ratu Kidul yang melawan wilayah selatan Jawa itu terjawab oleh riset yang dipimpin peneliti LIPI, Eko Yulianto.Â
![]()
Pantai Parang Tritis di Yogyakarta
Reid menuliskan, setelah tsunami 2006 di Pangandaran, tim Eko menginvestigasi lokasi tsunami 2006, dan ternyata mereka menemukan ada lapisan pasir setebal 20 cm, yang secara substansial lebih dari lapisan bekas tsunami 2006 di aliran Sungai Cikuembulan. Lapisan pasir 20 cm ini ditemukan di atas lapisan lumpur yang berdasarkan penanggalan karbon bersuaia 400 tahun lalu. Lapisan ini diyakini merupakan bekas tsunami yang merusak selatan Jawa.
Dalam tradisi masyarakat Bali, gempa dan tsunami dikaitkan dengan penyu raksasa kosmik, yaki Bedawang atau Bedawang Nala. Zamidra dalam Makhluk Mitologi Sedunia (2012) menuliskan, Bedawang Nala merupakan penyu raksasa yang membawa seluruh dunia di punggungnya. Konon, Bedawang merupakan perubahan dari naga Anantabhoga, salah satu naga yang membelit Bedawang Nala. Naga satunya yakni Basuki. Anantaboghan mewakili tanah sedangkan Basuki mewakili air.Â
Bedawang bersama dua ular naga mendukung dunia. Jika Bedawang bergerak maka akan terjadi gempa dan letusan gunung berapi di atas bumi. ?Cameron Forbes dalam buku Under the Volcano: The Story of Bali, mitos yang diyakini Bedawang Nala dan naga tersebut terlibat dalam pembentukan Pulau Bali.
Naga Anantabogna diminta oleh dewa untuk masuk ke lapisan bawah bumi. Naga inilah yang kemudian menjadi dasar penopang daratan Bali. Menyusul naga Anantabogha, Bedawang Nala mendatangi tempat naga tersebut. Begitu Bedawang Nala datang, pegunungan, pepohonan, padi, manusia, hujan, api, ikan, burung dan hewan lainnya terciptakan di atas dasar Bedawang dan Anantabogha.Â