- ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
![]()
Bung Tomo
Puluhan tahun berlalu. Pada 22 Oktober 2015, bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriah, untuk mengenang peran besar pesantren, santri, dan para kiai, Presiden Joko Widodo meresmikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2015, ketetapan itu disampaikan. Tahun ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Secara khusus, setiap tahun pemerintah melakukan peringatan untuk mengenang jasa santri dan meneguhkan santri sebagai bagian dari jati diri bangsa ini.
Namun menjelang Pemilu, frasa 'santri' seperti tak lagi sakral. Frasa 'santri' yang lekat dengan pesantren mendadak ditafsirkan berbeda. Adalah Partai Keadilan Sosial alias PKS yang membuat bingung ketika tiba-tiba mereka menyematkan 'santri' untuk Sandiaga S.Uno, Cawapres Prabowo Subianto. Pasangan ini adalah capres-cawapres yang didukung oleh PKS. Presiden PKS Sohibul Iman, dalam sambutannya saat deklarasi Prabowo-Sandiaga Uno sebagai calon presiden dan wakil presiden, menyebut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu sebagai santri post-Islamisme, santri modern, hingga santri abad milenial.Â
Menurut Sohibul Iman, Sandiaga adalah sosok yang berpegang teguh pada ajaran Islam, dan kini menjadi sosok yang saleh. "Dari sisi capaian materi, dia sudah menyundul langit. Kemudian, dia ada kerinduan spritual, akhirnya dia belajar Islam dan dia kini menjadi sosok yang saleh salatnya, rajin puasanya, rajin kerja keras. Jadi, dia menjadi sosok walaupun tampilannya stylish, milenial tetapi dia berpegang teguh ajaran Islam," kata Sohibul Iman di KPU, Jumat 10 Agustus 2018. Dengan alasan itulah Sohibul Iman merasa Sandi layak disebut santri.
Siapakah Santri?
Presiden PKS Sohibul Iman mungkin punya definisi sendiri soal santri yang ia sematkan pada sosok Sandiaga Uno yang kini menjadi gacoan mereka untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2019. Tapi benarkah definisi santri yang selama ini dikenal publik adalah seperti yang diberikan Sohibul Iman kepada Sandiaga Uno?
Sejarawan dari Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah Jakarta Johan Wahyudi membantah penjelasan Sohibul Iman. Ia mengatakan, terminologi santri bukan gelar. Itu adalah sematan untuk mereka yang menuntut ilmu di pesantren.