SOROT 524

Santri dalam Pusaran Politik

Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Maman menjelaskan, saat ini, jika KH. Ma'ruf Amin mendatangi pesantren, itu bukan saja dalam kepentingan kampanye. Tapi Ma'ruf Amin datang untuk bersilaturahmi, bertemu dengan teman lama dan bertukar ide untuk masa depan Indonesia. Sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, jaringan pertemanan KH. Ma'ruf Amin dengan kiai dan pesantren di seluruh Indonesia sangat luas. 

img_title Kuasa Hukum MR Tersangka Kasus Santri Tewas Terbakar: Tidak Ada Unsur Kesengajaan dan Murni Kecelakaan

Presiden Jokowi di Pondok Pesantren Girikusumo, Mranggen Demak

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Presiden Jokowi berkunjung ke Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak

img_title Tragedi Santri Dibakar di Lombok, LPSK Bergerak Cepat Lindungi Korban dan Mulai Hitung Restitusi

Tapi cara tersebut ternyata tak dipandang efektif oleh Direktur Eksekutif Voxpol Centre Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago. Menurut dia, meski Ma'ruf Amin berasal dari pesantren dan pemimpin ulama, namun belum tentu kalangan pesantren dan santri akan memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Sebab, tak mudah mengkondisikan atau memobilisasi santri dan kiai.  "Bahkan ada pesantren, kiai  yang main dua kaki," ujar Pangi.

Ia menambahkan, permainan dua kaki terjadi karena mereka juga sadar dimanfaatkan, bahkan sangat disayangkan,  dijadikan komoditas politik oleh politisi dalam rangka mendulang elektoral. "Mereka sadar agama, pesantren hanya dijadikan sebagai kendaraan politik, tunggangan politik dalam rangka memenangkan kontestasi elektoral," ujarnya menjelaskan.

img_title 3 Santri Dibakar di Lombok, Komisi X DPR: Siapapun yang Terlibat Jangan Dilindungi!

Pangi mengambil contoh kiai NU Salahudin Wahid yang pernah jadi cawapres, lalu ada almarhum Hasyim Muzadi yang juga pernah jadi cawapres, dan faktanya kedua orang tersebut tetap kalah dalam Pilpres. Faktanya, ujar Pangi, ini membuktikan kondisi NU tak solid dan bulat untuk mendukung kader NU dan kiainya.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dr H Dadang Kahmad membenarkan tesis Pangi. Menurutnya, menurutnya masyarakat sudah mulai cair dan rasional, daya pilihnya sudah mulai fungsional, dan tidak lagi simbol. Maka kemungkinan tidak sebagaimana yang diharapkan bahwa seluruh santri akan tertarik. Karena memang di antara santri-santri juga banyak yang sudah punya pilihan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Di alam modern sekarang ini tingkat rasionalitas sudah mulai tinggi. Jadi sekali lagi pilihan itu berdasarkan pilihan fungsional tidak simbol sekarang," ujarnya. 

Ia menambahkan, santri masa sekarang beda dengan santri masa lalu, di mana tingkat ketaatan mereka pada kiai sangat tinggi. Rasionalitas santri itu sudah tinggi, ujar Dadang. "Mereka orang orang intelektual menggunakan daya pilihnya berdasarkan rasional. Tidak berdasarkan pada pilihan pilihan tradisional atau personal lagi."  (mus)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut