- VIVA / Yudhi Maulana
"Edy out kan orang-orang yang ngomong. Mungkin orang sudah menilai. Kalau saya setuju (Edy mundur), enggak apa-apa kalau saya dimusuhi tidak masalah," kata Umuh di Graha Persib, Bandung, Selasa 27 November 2018.
Manajer berusia 70 tahun ini mengaku siap mendorong voter untuk secepatnya menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Keinginannya itu juga sudah didukung penuh beberapa voter.
"Saya dorong untuk KLB karena sudah banyak yang nelpon saya untuk mendorong KLB, saya dorong voter. Silahkan kalau marah lagi sama saya. Saya sudah capek," kata Umuh.
"Urus saja yang lain jangan merangkap begini, harus serius. Dan, jangan salahkan lagi wartawan nanti," tuturnya.
Kendati demikian, Umuh belum mau menyebutkan sosok yang tepat mengganti posisi Edy Rahmayadi bila resmi mundur. Namun, yang pasti ketua terpilih harus punya sikap tegas dan berani.
"Secepatnya saja (KLB). Tahun depan boleh sambil beres-beres dulu Liga. Sosok yang tepat siapapun juga kembali lagi yang berani untuk memberikan modal harus berani buang waktu dan mengeluarkan duit," papar Umuh.
Sementara itu, Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi menilai, sebaiknya kepengurusan PSSI yang ada saat ini diberi kesempatan sampai masa periodenya selesai, yaitu 2020.
"Kepengurusan PSSI ini kan sempat dihentikan di tengah jalan. Dan apa hasilnya tidak bagus. Kalau ini dihentikan lagi justru itu tidak baik," kata Yoyok saat dihubungi VIVA.
![]()
Kongres PSSIÂ 2017
Permasalahan memang seperti tidak mau lepas dari PSSI. Nyaris dalam 10 tahun terakhir, PSSI terus dibelit permasalahan yang beberapa kali berbuah pembekuan.
Pada tahun 2010, PSSI terjadi konflik internal, menyusul dualisme kompetisi. Konflik ini membuat FIFA membentuk Komite Normalisasi pada 1 April 2011 untuk mengambil alih kepemimpinan PSSI era Nurdin Halid.
Setelah melewati berbagai kegagalan penyelenggaraan kongres, akhirnya, dalam Kongres Luar Biasa (KLB) tanggal 9 Juli 2011 di Solo, Djohar Arifin Husin terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.
Namun, PSSI era Djohar Arifin juga diterpa masalah berkepanjangan karena aturan-aturan yang ditetapkan. Salah satunya soal pembentukan IPL yang mendapat tekanan dari 12 klub atau kelompok 14, karena kompetisi berjumlah 24 klub dan 6 klub di antaranya langsung menjadi klub IPL.