- VIVA
Sempat Jadi Perdebatan
Sebelumnya, proses divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia ini sempat mendapat kritikan tajam dan perdebatan di masyarakat. Bahkan, salah satu upaya penandatanganan Head of Agreement (HoA) divestasi ini disalahartikan oleh sejumlah pihak, bahkan dibilang hoax atau kabar bohong.
Hal itu wajar saja, karena proses divestasi ini sangat berdekatan dengan proses demokrasi yang akan berlangsung pada April 2019 nanti. Bahkan, sejumlah pernyataan pemerintah yang mengatakan Freeport sudah kembali kepangkuan Ibu Pertiwi dinilai sebagai kabar bohong.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Djajad Wibowo contohnya, di mana dirinya sangat mengkritik keras bahwa proses HoA yang dilakukan adalah proses akhir dari kembali Freeport ke Tanah Air. Sebab, kesepakatan atau HoA justru menunjukkan negosiasi antara pemerintah dan Freeport belum selesai dan hanya kesepakatan awal terhadap harga pelepasan hak partisipasi Rio Tinto, plus saham FCX di FI.Â
Tak hanya itu, Drajat mengatakan, HoA juga belum menunjukkan secara jelas transaksi saham tersebut. Terlebih, pihak Freeport McMoRan (FCX) dan Rio Tinto menyebut ada isu-isu besar yang belum disepakati.
Isu besar itu antara lain, hak jangka panjang FCX di FI hingga 2041, butir-butir yang menjamin FCX tetap memegang kontrol operasional atas FI, meskipun tidak menjadi pemegang saham mayoritas, dan kesepakatan isu lingkungan hidup, termasuk limbah tailing.
![]()
PT Freeport Indonesia
Selain itu, tercapainya kesepakatan harga saat HoA, diduga bahwa Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) FI habis pada 4 Juli 2018, dan melalui revisi SK Nomor 413K/30/MEM/2017, IUPK diperpanjang hingga 31 Juli 2018. Tak hanya itu, perdebatan terkait pengambilan saham PT Freeport Indonesia juga terjadi pada kesepakatan harga yang harus dibayar Inalum. Namun, Drajat yang juga politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu tidak bisa menjawab.
Dia hanya menyatakan, sejak lama Rio Tinto pasang harga di US$3,5 miliar. Sehingga, bisa dilihat perbandingannya dengan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya, saat mengambil Inalum dari Jepang. Dimana, saat harga tawar dan pembelian akhirnya membuat Jepang takluk.