- VIVA/Tim Desain
"Sehingga kepercayaan investor akan semakin menarik," ujarnya.Â
![]()
Penutupan IHSG di Bursa Efek
Sejumlah kalangan berpendapat berbeda mengenai optimisme tersebut. Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 5 persen tahun depan. Lebih rendah dari asumsi pemerintah di level 5,3 persen.Â
Menurutnya, selain dari efek tahun politik yang bakal melemahkan laju investasi, konsumsi masyarakat pun akan cenderung stagnan. Kondisi tersebut khususnya terjadi pada masyarakat kelas menengah ke atas.Â
"Pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor komoditas, seperti perkebunan tahun depan masih rendah. Seiring harga sawit dan karet belum menunjukkan perbaikan yang signifikan," ujar Bima kepada VIVA, Kamis 27 Desember 2018.Â
Dia pun berpendapat, ancaman dari ekonomi global khususnya perang dagang AS-China masih besar tahun depan. Meskipun saat ini sudah ada sinyal positif terkait negosiasi masalah tersebut dari kedua negara.Â
"Dari sisi ekspor belum ada tanda-tanda perang dagang membaik. Jadi sisi ekspor tidak bisa diandalkan," ungkapnya.Â
Menurut Bima, perkembangan perang dagang itu juga menyebabkan volatilitas yang tinggi pada pasar keuangan. Pelaku pasar menghindari masuk ke negara berkembang untuk jangka waktu pendek.
Â
"Imbasnya tekanan pada rupiah meningkat di akhir tahun (2018)," tuturnya.Â
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur yang digenjot Jokowi dinilai belum akan terasa dalam jangka pendek. Artinya, ketersediaan infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pun masih belum efektif dirasakan.Â
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo juga sedikit pesimistis terhadap perkembangan ekonomi Indonesia pada 2019. Pertumbuhan ekonomi 2019 diproyeksikan kalangan usaha hanya 5,2 persen atau lebih rendah dari proyeksi pemerintah dalam APBN sebesar 5,3 persen.
Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, mengungkapkan, proyeksi yang cenderung konservatif dibanding proyeksi pemerintah itu lebih dikarenakan banyaknya tekanan ekonomi dari sisi global maupun domestik pada 2019. Situasi itu berisiko menekan sentimen positif pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.
"Tekanan internasional ini (perang dagang) jadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh besar," kata dia dalam konferensi pers Outlook Apindo 2019 di Jakarta, Rabu 5 Desember 2018.