SOROT 546

Mengembalikan Pamor Kopi Klasik

Kegiatan petani memetik biji kopi di hutan di Bandung, Jawa Barat
Sumber :
  • VIVA/Purna Karyanto

"Kini, kami berusaha mengembalikan pamornya. Kenapa sih kalah pamor dengan Aceh Gayo, Mandheling, dan lainnya, dukungan pemerintah mereka maksimal. Kira-kira begitu,” terang dia.

img_title Ngecas Mobil Listrik Kini Secepat Minum Kopi

Geliat Kios Dunia Kopi di Pasar Santa Jakarta - gal

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Biji kopi pilihan dan laris yang dijual di kios Dunia Kopi yang berada di Pasar Santa, Jakarta. (VIVA/Dhana Kencana)

img_title Momen Prabowo Minta Izin Minum Kopi di Sela Pidato Sidang Tahunan MPR RI: Daerah Penghasil Kopi Pasti Mendukung Saya

Sebenarnya, kopi Jawa Barat mulai diperhitungkan kembali setelah pada 2016, biji kopi Gunung Puntang memenangi kompetisi di Atalanta, Amerika Serikat. Dalam kompetisi itu pula, kopi Gunung Puntang sempat mendapatkan label yang termahal. 

Satu kilogram kopi Gunung Puntang, ketika itu dihargai US$55 atau Rp760 ribu.

img_title Plt Kepala KUA Pulau Beringin Dibunuh, Dipicu Parkir Mobil Sembarangan dan Lindas Biji Kopi Warga

“Faktanya, cita rasa yang menentukan. Memang, kopi Jawa Barat punya cita rasa yang unik," ujar Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan dan Kehutanan Jawa Barat, Yayan C Permana.

Dia menambahkan, coffee shop di Indonesia mulai banyak yang pakai Java Preanger (sebutan kopi Jawa Barat).  "Promosi gencar dilakukan. Dan, secara CV, kami sudah menang di beberapa kompetisi,” tuturnya.

“Brandung juga harus pakai tagline. Pakai #KopiJawara. Kenapa? Karena rasanya memang juara. Dan, kami sudah juara. Tagline penting dalam promosi,” kata Kang Emil.

Membangun kembali reputasi, perlu juga menata diri. Pengetahuan petani akan teknik bertanam sangat diperlukan. Pun, teknik pengolahan dalam panen hingga pasca panen sangat penting dimiliki.

Banyak pula, petani yang belum paham mengenai pemilihan biji kopi terbaik sesuai, atau sortasi sesuai grade.

“Masih ada petani, karena kurang pengetahuan, petiknya dicampur, merah, semu, maka dari itu pemerintah memberikan fasilitas dengan memberikan pendidikan ke beberapa petani,” ungkap Emil, sapaan Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil menyatakan, sudah ada beberapa petani yang menerapkan teknologi mutakhir dalam proses pengolahan kopi miliknya. Hanya saja, itu belum merata.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sempat ada keluhan, rasa kopinya tak seragam. Ada manis, kurang, dan lainnya. Ini tantangan bagi kami. Selain promosi, kami juga harus gencar memperbaiki kualitas,” ujar Ridwan.

Tantangan lainnya adalah peningkatan kesejahteraan petani. Ini menjadi salah satu masalah pelik yang dihadapi oleh pelaku kopi di Jawa Barat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut