- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Sugiono acuh tak acuh ketika ditanyakan tentang reaksi kubu Jokowi-Ma'ruf yang menyebut klaim persentase kemenangan Prabowo-Sandiaga itu sebetulnya mengada-ada, terutama karena metodologi risetnya tak jelas. Dia mengingatkan, hasil "assesment" itu hanya untuk konsumsi internal BPN karena berkaitan dengan strategi yang tak boleh diketahui kubu lawan.
"Lho, keraguan itu urusan mereka, ya," ujarnya dengan intonasi meninggi. "Kenapa saya harus melayani itu. Itu adalah asassment yang kita lakukan. User kita adalah BPN, bukan mereka (Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf)."
Dia berpaling dari angka-angka hasil "assesment" itu dan mengingatkan betapa bergeloranya masyarakat ketika menghadiri setiap kampanye terbuka Prabowo maupun Sandiaga. Bukti terbaru, katanya, ialah lautan massa yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta, Minggu, 7 April 2019 lalu.
"Ini gelombang manusia yang hadir; gelombang manusia yang ingin perubahan terjadi di negeri ini. Manusia yang memiliki akal sehat tentunya dapat dengan mudah mengetahui bahwa Pilpres tahun ini akan dimenangkan Prabowo-Sandi," katanya.
Sugiono berkelit saat dicecar apa langkah alternatif BPN Prabowo-Sandiaga kalau klaim itu ternyata meleset. "Kita tidak akan kalah—yakin." Dia kembali mempertegas bahwa dukungan masyarakat kepada Prabowo adalah nyata, dan karenanya mustahil kalah, kecuali dicurangi. "Kalau curang akan berhadapan dengan kekuatan rakyat."
Efek Bradley
Klaim Sugiono itu tak selaras dengan hasil riset Voxpol Center Research and Consulting, lembaga survei yang kerap merilis hasil penelitiannya dengan selisih tipis elektabilitas Jokowi dengan Prabowo. Menurut mereka, pada dasarnya elektabilitas Jokowi masih unggul dari Prabowo. Selisihnya tak terlalu besar, hanya tak lebih lima persen.
Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, menunjukkan angka tingkat keterpilihan Jokowi 48,8 persen, sedangkan Prabowo 43,3 persen. Tetapi selisih tipis itu, katanya, rentan berubah atau bahkan berbalik, sebab situasi politik sangat dinamis dan akan banyak faktor yang akan memengaruhi pilihan masyarakat untuk memilih. Artinya, survei hanya semacam prakiraan pilihan masyarakat, tetapi hasil akhirnya nanti bukan ditentukan survei, melainkan pilihan langsung masyarakat di tempat pemungutan suara.