- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
![]()
LSI Denny JA memaparkan hasil survei
Tingkat keterpilihan yang begitu tinggi itu, menurut Ardian, karena lima faktor utama. Pertama, masyarakat puas dengan pemerintahan Jokowi. Kedua, Jokowi dianggap dekat dengan kalangan masyarakat bawah alias wong cilik, komunitas minoritas, dan kalangan NU. Ketiga, program-program sosial pemerintahan Jokowi dianggap sukses dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Keempat, Jokowi dinilai lebih jujur, lebih pintar, lebih nasionalis, lebih religius, dan lebih merakyat dibandingkan Prabowo. Kelima, Jokowi dianggap mampu menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi, kesehatan, sosial, budaya, dan lain-lain.
"Hanya persepsi berwibawa sebagai pemimpin, Prabowo lebih unggul dibandingkan Jokowi," kata Ardian.
Pengamat politik pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, punya analisis lain ketimbang hasil survei Voxpol maupun LSI Denny JA. Dia menggarisbawahi klaim-klaim BPN Prabowo-Sandiaga, seperti Sugiono tegaskan pula.
Memang, kata Adi, hampir semua lembaga survei mengunggulkan Jokowi ketimbang Prabowo. Kalau menganalisis berdasarkan survei itu, jelas Jokowi-lah pemenangnya. Tetapi, dia mengingatkan, keyakinan menang kubu Prabowo tidak berlandaskan pada hasil survei, melainkan jumlah massa yang hadir dalam setiap kegiatan terbuka Prabowo maupun Sandiaga.
"Mereka (kubu Prabowo-Sandiaga) punya keyakinan bukan survei lagi," kata Adi di Jakarta pada Rabu lalu, "tapi berkeyakinan dari jumlah massa yang begitu banyak datang ke kampanye-kampanye terbuka di berbagai daerah, yang begitu membeludak itu."
Bagi kubu Prabowo, massa yang melimpah ruah dalam setiap kampanye itu berdampak pada psikologi politik mereka; sang penantang kian bersemangat ketika melihat masyarakat yang begitu antusias mendukung mereka. "Makanya orang selalu menggunakan istilah yang satire: elektabilitas Prabowo kok enggak naik-naik, tapi kampanye terbuka itu penuh."
Suasana kampanye akbar Prabowo di GBK, Jakarta
Pandangan Adi Prayitno tentang betapa kuat keyakinan kubu Prabowo bahwa merekalah kampiun kontestasi politik 2019 menemukan pembuktiannya berdasarkan pendapat sebagian simpatisan 02. Mereka memercayai bahwa prakiraan-prakiraan banyak lembaga survei itu sebenarnya hitung-hitungan matematis belaka, dan kenyataannya nanti saat hari pemungutan suara akan berbeda.
Ipoy, seorang juru parkir pendukung Prabowo di Jakarta, misalnya, berkeyakinan penuh jagoannya akan memenangi pemilu presiden. Dia mengabaikan ramalan-ramalan ragam lembaga survei, terutama yang mengunggulkan Jokowi. "Mungkin itu hanya di atas kertas, tapi kondisi riil di masyarakat menang Prabowo," katanya kepada VIVA saat ditemui di tempatnya bekerja Rabu lalu.