- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
![]()
Rilis hasil survei Voxpol
Akan ada banyak faktor yang menentukan hasil akhir nanti, kata Pangi kepada VIVA di Jakarta pada Selasa lalu, di antaranya jumlah golput atau orang yang sengaja tak memilih karena macam-macam sebab, pemilih solid atau strong voters, paparan program kerja, manuver-manuver politik yang menjadi blunder, kampanye terbuka, dan lain-lain.
Kedua kubu, katanya, memiliki pemilih solid atau pemilih yang sudah menetapkan pilihan mereka jauh-jauh hari dan tak akan berubah lagi. Tetapi ada cukup banyak calon pemilih yang bimbang atau belum menentukan pilihan bahkan hingga sepekan menjelang pemungutan suara. Calon pemilih yang masih ragu-ragu itu jumlahnya tak sedikit, yakni 7-13 persen, setara belasan hingga 20 juta orang.
"Angka yang besar, dan bisa mengubah arsitektur kemenangan dan peta politik ke depannya," kata Pangi. "Artinya, masing-masing kandidat masih harus kerja keras untuk mendapatkan kemenangan pada pilpres nanti."
Dia mengingatkan juga tentang efek Bradley dalam dunia riset politik, yang dapat mengubah prediksi banyak lembaga survei dengan kenyataan pada hari pemungutan suara. Efek Bradley didefinisikan sebagai kondisi saat hasil survei tidak akurat karena ada bias identitas sosial dan umumnya terjadi dalam pemilu yang sengit.
Pemilu presiden 2019, Pangi berpendapat, berlangsung sengit, tak kalah sengit dibanding tahun 2014. Ada cukup banyak kemungkinan para responden yang disurvei oleh ragam lembaga survei itu tidak menjawab dengan jujur atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka, sehingga hasilnya tak akurat.
"Jadi, pada hari H sama-sama punya peluang: Pak Jokowi punya peluang untuk menang dan kalah, begitu juga dengan Pak Prabowo punya peluang untuk menang dan punya peluang untuk kalah," katanya.
Banyak faktor juga yang memengaruhi sikap sebagian calon pemilih belum menentukan pilihan, bahkan hingga sepekan menjelang pemungutan suara. Di antaranya, kata Pangi, mungkin saja mereka menunggu kampanye selesai, menanti debat kandidat terakhir, berharap bantuan logistik, atau bisa juga menunggu arahan terang patron politik mereka.
Dia menganalisis, taktik menghadirkan sejumlah patron politik, misal tokoh atau pemuka agama, sedang dijalankan kubu Prabowo. Dia menengarai itu berdasarkan konsep kampanye terbuka Prabowo di Gelora Bung Karno pada 7 April, yang mengurangi kesempatan tokoh politik berpidato di hadapan massa dan sebaliknya memberikan banyak waktu kepada sejumlah tokoh agama. "Mungkin mereka memahami [dan] mencoba memainkan patron politik ulama dan masyarakat jadi vote gaters."