- VIVAnews/Fernando Randy
"Dulu mah beneran enak, di kampung sendiri bisa dapet cepek (100 ribu) seorang paling dikit. Kadang 150 ribu seorang. Sekarang paling segitu, 60 ribu seorang. Itu juga udah jalan jauh ke Pancong, Pondok Bambu sono. Yaa lumayan deh itungannya mah," kata Arya.
Penghasilan besar dari mengamen ondel ondel kini hanya menjadi cerita. Ijan, Arya, dan Fahmi harus bersaing keras karena menjamurnya pengamen-pengamen yang memanfaatkan ikon budaya Betawi tersebut.
Pudarnya Sandaran HidupÂ
Ijan, Arya dan Fahmi adalah pemuda yang tinggal di Kampung Jembatan, Penggilingan Cakung, Jakarta Timur. Wilayah tersebut didominasi warga asli Betawi. Ijan, Arya dan Fahmi teman main sejak kecil di kampung tersebut. Sebagai warga asli Betawi, ketiganya sudah tak asing dengan ondel ondel. Mereka mengaku sudah sejak kecil ikutan ngarak ondel ondel. Bahkan sejak usia lima tahun. Tetapi karena masih kanak kanak, mereka tak berani berkeliling jauh. Biasanya hanya ikutan ngarak di sekitar kampung, ketika ondel ondel tampil di berbagai acara dan kegiatan kampung.
"Meski masih bocah, kalau ikut ngarak ondel ondel ya kita dibagi duit juga. Ya seneng saja gitu," ujar Ijan.
Semakin besar, ketiga pemuda ini mulai punya keinginan untuk ngarak ondel ondel keluar kampung. Merasa senang karena bisa dapat uang dari hasil mengarak ondel ondel, mereka berharap bisa mendapat penghasilan lebih besar lagi. Tahun 2015, ketiga bocah ini mulai memberanikan diri untuk ngamen di wilayah sekitar kampung mereka.
![]()
Para pengamen ondel ondel
Menurut cerita Arya ketika pertama mereka main ke luar kampung, saingan masih sangat sedikit. Situasi itu sangat menguntungkan mereka. Sebab penghasilan mereka meningkat drastis. Apalagi tahun-tahun itu mereka selalu tampil dengan formasi lengkap. Ada pemain musik dengan alat alat yang mumpuni. "Waktu itu mah masih sepi. Penghasilan sehari bisa satu juta, dibagi-bagi masih bisa kita dapat 150,000-an per orang," ujarnya.Â
Arya berkisah, mereka bahkan pernah mengarak ondel ondel hingga ke wilayah yang sangat jauh. Mereka pernah pergi ke Cikarang, dan mengontrak rumah selama satu bulan. Mengamen di wilayah Cikarang dan sekitarnya, lalu kembali ke kampung sendiri dengan penghasilan yang membuat senyum mereka semua terkembang lebar.Â