- VIVAnews/Fernando Randy
Aksi ngamen barongan atau ondel-ondel terus berlanjut hingga langit makin gelap. Rutinitas yang dilakukan membuat mereka sudah bisa memperhitungkan rute perjalanan dan waktu. Sebab, persis menjelang pukul 20.00 WIB posisi ketiganya sudah berada di sekitar pasar malam BKT yang setiap hari selalu ramai dikunjungi warga. Sasaran mereka kini sudah beralih, bukan lagi rumah-rumah warga, tapi pengunjung pasar malam, termasuk pedagang di sepanjang area BKT Kalimalang. Pukul 21.00 WIB, ketiganya mengakhiri 'tugas' mereka.Â
"Alhamdulillah bang, hari ini kita dapat 270 ribu, lumayan lah," kata Ijan kepada VIVAnews, Selasa malam, 16 Juli 2019.Â
![]()
Mikrolet membawa ondel ondel
Itu belum penghasilan bersih. Pasalnya, uang tersebut harus disisihkan untuk membayar sewa mikrolet yang digunakan untuk mengangkut ondel ondel, membeli makan dan minum selama mengamen, juga setoran ke pemilik ondel ondel. Setelah semua pengeluaran disisihkan, maka sisanya dibagi tiga. Selanjutnya, ondel ondel dan gerobak pengeras suara, juga Ijan, Arya dan Fahmi kembali pulang ke Kampung Jembatan diantar mikrolet sewaan. Biasanya, mereka bisa mengantongi 60-ribuan dari hasil berkeliling belasan kilometer itu.Â
"Angkot mah udah pada paham bang, biasanya emang ongkos sekitar Rp30ribuan sampai rumah. Sama buat setoran ke Babe Kaliyat (pemilik ondel ondel) deh Rp50ribu," ujar Ijan.
Ijan menuturkan, pendapatannya sekarang jauh lebih sedikit jika dibandingkan penghasilan ngarak atau ngamen ondel ondel tahun lalu. Menurut dia, penyebab turunnya penghasilan ngarak ondel ondel karena sekarang semakin banyak orang yang melakukan hal yang sama, yaitu mengamen dengan menampilkan seni budaya Betawi itu.
Hal itu dibenarkan oleh Arya Kamandanu. Pria yang masih duduk di kelas 3 SMP swasta itu mengisahkan pengalamannya ketika profesi ngarak ondel ondel di Ibu Kota Jakarta masih menjanjikan, sekitar dua tahun lalu. Saat itu ondel ondel masih jarang ditemukan di jalan-jalan atau perkampungan Jakarta.Â
Arya biasanya ngarak ondel-ondel bersama sepuluh orang temannya. Kesepuluh orang itu masing-masing membawa alat musik seperti gendang, tean (biola Betawi), biola, hingga gong yang dipikul oleh dua orang. Ketika itu, penghasilan ngarak ondel ondel atau barongan bisa mencapai Rp1 juta per hari. Dan itu didapatkan hanya dari mengamen di sekitar kampung, tak seperti sekarang yang harus berjalan belasan kilometer.Â