SOROT 566

Dalam Diam, Tionghoa Ambil Peran

Kampung pecinan di Bangka Selatan
Sumber :
  • VIVA.co,id/Adinda Permatasari

Candra menyayangkan kadang terjadi pelintiran sejarah, hanya karena kepentingan politik, sejarah kerap tak ditampilkan sebagaimana adanya. Sebab, ujar Candra, etnis Tionghoa memberi dukungan penuh pada perjuangan kemerdekaan karena telah merasa bahwa Indonesia juga tanah air mereka. 

img_title Maia Estianty hingga Dian Sastro, 4 Aktris Ini Keturunan Pahlawan

"Karena kan sudah ribuan tahun sebelum itu sebenarnya Tionghoa sudah masuk ke Indonesia. Dari jaman Cheng ho, bahkan jauh sebelum Cheng ho juga, Tionghoa itu sudah ada yang sampai ke sini. Sehingga mereka merasa bahwa Indonesia ini adalah tanah airnya. Orang-orang Tionghoa itu kan mempunyai prinsip, dimana bumi itu dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi cinta tanah air itu memang dari peribahasa itu," ujar Candra menjelaskan.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gelora Sumpah Pemuda di Jakarta, yang dideklarasikan di sebuah rumah kost milik etnis Tionghoa, mengalir deras. Semangat nasionalisme semakin menuju titik kulminasi. 

img_title Warga Palestina Lomba Panjat Pinang di Jalur Gaza, Hadiahnya?

Sebuah surat kabar Tionghoa yang berbahasa Melayu, Sin Po, ikut ambil bagian. Dikutip dari Tionghoa.info, Sin Po adalah surat kabar pertama yang menjadi pelopor penggunaan kata "Indonesia" untuk menggantikan "Nederlandsch Indie", "Hindie Nederlandsch", atau "Hindia Olanda". Tidak hanya itu, Sin Po juga disebut sebagai penghapus penggunaan kata "inlander" yang dianggap sebagai penghinaan terhadap rakyat Indonesia, dan menggantinya dengan kata "Indonesia." 

Sikap Sin Po mendapat apresiasi dari media milik warga Indonesia. Sebagai penghormatan atas sikap Sin Po, media Indonesia mengganti penggunaan kosa kata Cina, yang dianggap diskriminatif dan merendahkan menjadi Tiongkok. Dalam percakapan sehari-hari, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga mengganti kata ‘Cina’ dengan kata ‘Tionghoa’.

img_title Hari Kemerdekaan RI, Warga Palestina Bikin Perayaan di Jalur Gaza

Surat kabar Sin Po saat itu memang memiliki pandangan politik yang pro-nasionalis Tiongkok. Namun karena alasan itu pulalah, yakni berdasarkan ajaran Dr Sun Yat Sen, Sin Po mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam San Min Chu I, Sun Yat Sen menulis perkembangan kemerdekaan Tiongkok tidak akan sempurna selama bangsa-bangsa di Asia belum merdeka. Itu sebabnya mereka memberi dukungan penuh pada perjuangan Indonesia.

Koran ini juga menjadi koran pertama yang memuat syair lagi Indonesia Raya yang digubah oleh Wage Rudolf Supratman. Sejak tahun 1925, WR Supratman adalah wartawan di surat kabar tersebut. Bulan November 1928, WR Supratman dengan bangga menyampaikan kepada Kwee Kek Beng, pemimpin redaksi Sin Po bahwa lagu gubahannya, Indonesia Raya, disepakati menjadi lagu kebangsaan. Dengan semangat Kwee Kek Beng segera meminta syair dan partitur lagu tersebut. Ia mencetak sebanyak 500 eksemplar, dan meminta WR Supratman membagikannya kepada rekan dan sejawat.  

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut