SOROT 572

Demonstrasi, Dulu dan Kini

Ribuan mahasiswa dari banyak kampus dan elemen masyarakat lain berdemonstrasi di depan gedung DPRD Jawa Timur di Surabaya pada Kamis, 26 September 2019.
Sumber :
  • VIVAnews/Nur Faishal

Poster yang dibawa mahasiswa untuk menolak RKUHP.Poster demo mahasiswa menolak pengesahan revisi UU KUHP

img_title Wanti-wanti PB PII Jelang Aksi 27 Agustus: Waspada Politik Kebencian dan Disinformasi!

Demonstrasi kali ini sedikit berbeda. Sebab, untuk pertama kalinya mahasiswa tak mengusung isu ekonomi. Tak ada isu turunkan harga, anti-investasi asing, atau protes karena harga bahan bakar minyak (BBM) yang meroket. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Isu mahasiswa pada 2019 itu berbeda dengan kakak-kakak seniornya saat berdemonstrasi pada 1966, 1974, bahkan tahun 1998. 

img_title Jaga Kedaulatan Bangsa, KAMMI Ajak Semua Elemen Tolak Upaya Provokasi Lewat Aksi

Selain isu yang berbeda, mereka juga dengan canggih menggunakan perangkat teknologi untuk berkoordinasi dan mengatur strategi. Anak-anak muda itu juga lebih santai menghadapi demonstrasi. 

Mereka memilih untuk mengkritik dengan menggunakan kalimat-kalimat yang lucu dan nakal, khas jiwa muda. Tapi, isi pesan yang disampaikan tetap serius. 

img_title Beredar Seruan Aksi Warga Pati, Bamus Betawi Ingatkan Tetap Jaga Kedamaian Jakarta

Pada Jumat, 27 September 2019, sudah lebih dari sepekan mereka terus turun ke jalan. Seolah tak habis energi, silih berganti mahasiswa di berbagai wilayah negeri turun ke jalan berdemonstrasi. 

Menuntut pemerintah dan DPR lebih peduli, mendengarkan nurani, serta membuat peraturan yang bisa dipahami dan tak mencampuri urusan pribadi.

Beda Perjuangan, Beda Tuntutan

Sepanjang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, ada tiga demonstrasi besar yang digerakkan oleh mahasiswa dan berhasil mencatat sejarah besar. Pertama adalah pada 1966. Lalu, pada 1974 dan terakhir tahun 1998. 

Masing-masing demonstrasi memiliki ciri khas sendiri, sesuai dengan zaman dan kondisi sosial politik saat itu. 

Aksi demonstrasi yang terjadi pada 1966 dipicu oleh situasi politik yang memanas setelah terjadi pembunuhan terhadap enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat dalam kasus yang terkenal dengan sebutan G 30 S/PKI. Pembunuhan sadis itu membuat tuntutan agar Partai Komunis Indonesia dibubarkan jadi menguat. Sayangnya pemerintah tak segera mengambil tindakan. 

Ketua Comite Central PKI, Dipa Nusantara Aidit, dalam kampanye Pemilu 1955.Ketua CC PKI DN Aidit dalam kampanye Pemilu 1955

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

PKI masih dibiarkan, dan situasi politik yang tak menentu melambungkan harga BBM. Dampaknya, harga kebutuhan pokok ikut melambung tinggi. 

Warga harus antre hanya untuk mendapatkan minyak tanah dan kebutuhan pokok rumah tangga. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau, perekonomian makin memburuk dengan inflasi mencapai 600 persen. Upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga barang yang menggila menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut