- VIVAnews/Nur Faishal
Ribuan lainnya shock dan berduka. Mereka yang tewas adalah Hafidin Royan, Elang Mulya Lesmana, Heri Hertanto, dan Hendriawan. Keempatnya adalah mahasiswa Trisakti.
Aksi massa pecah pada 12-13 Mei 1998. Isu sentimen asing kembali terdengar. Jika pada 1974 Jepang menjadi sasaran, tahun 1998 China yang menjadi luapan.Â
Aksi pembakaran, penjarahan, hingga perkosaan mewarnai kerusuhan. Jakarta mencekam. Asap hitam mengepul dari berbagai penjuru, transportasi publik lumpuh, dan seluruh aktivitas sosial berhenti. Eksodus warga keturunan terjadi hingga sepekan setelah kerusuhan.Â
Mahasiswa tak berhenti. Kematian rekan sejalan menjadi amunisi baru. Serentak mereka keluar dari kampus masing-masing. Gedung DPR RI dikuasai. Situasi politik makin meruncing. Satu per satu menteri meninggalkan Soeharto sendiri.Â
Habibie mengucapkan sumpah saat menjadi presiden menggantikan Soeharto
Puncaknya 21 Mei 1998, dari Istana Negara, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Mahasiswa bersorak, masyarakat berteriak, sujud syukur, dan saling berpelukan. Agenda mahasiswa dan rakyat menumbangkan Soeharto dan Orde Baru tercapai sudah.
Beda Masa, Beda Gaya
Di era generasi Z, aksi demonstrasi memang berbeda. Generasi yang terkenal dengan sikapnya yang lebih rileks dan santai ini memunculkan poster-poster penuh humoris namun sarat kritik.Â
Mereka muncul dengan pesan sosial dan kalimat lucu. Meski isu yang diusung lebih berat, tapi mereka mengaitkannya dengan keseharian yang mereka hadapi.Â
Pegiat sosial yang juga aktivis 98, Savic Ali, mengakui ada perbedaan mendasar antara gerakan mahasiswa dari tahun 1966 hingga 2019. Menurutnya, isu mahasiswa pada 2019 sangat intelektual.Â
Isunya sulit dipahami oleh masyarakat yang tidak terdidik atau kelas bawah. "Sebab isunya terkait UU KPK, RUU KUHP, isu pelemahan demokrasi. Bisa jadi sampai sekarang pun masih banyak kelas bawah yang belum paham dengan isu itu," ujarnya kepada VIVAnews.
Salah satu poster peserta unjuk rasa
Savic mengatakan, kondisi ini sangat berbeda dengan demonstrasi mahasiswa sebelumnya. Saat itu, isu yang diusung adalah soal harga bahan pokok yang melonjak dan kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat.Â
Pada 1998, isu bertambah karena ada akumulasi kemarahan terhadap kekuasaan yang sudah terlalu lama. Lebih dari 30 tahun Soeharto berkuasa, dan kekuasaannya dilakukan dengan represif.Â