- VIVAnews/Nur Faishal
Di depan Istana, mahasiswa membakar patung PM Jepang. Demonstrasi yang semula damai lalu pecah menjadi kerusuhan.Â
Presiden Soeharto
Di sekitar wilayah Pasar Senen terjadi pembakaran gedung dan kendaraan yang berbau Jepang. Sementara itu, di depan Istana terjadi kerusuhan ketika polisi menembakkan peluru kepada demonstran.Â
Kerusuhan itu menyebabkan 11 orang tewas, lebih dari 600 mobil hangus, bangunan baru Pasar Senen yang memiliki investasi lebih dari Rp2 miliar hangus total. Sebagian toko di sekitarnya rusak, korban luka berat dan ringan lebih dari 100 orang.Â
Peristiwa 15 Januari 1974 itu kemudian terkenal dengan sebutan Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari.
Mahasiswa curiga aksi mereka ditunggangi. Sebab, aksi yang mereka lakukan hanya di sekitar Salemba, Thamrin, Grogol, dan Istana Negara. Tak ada yang sampai ke sekitar Pasar Senen.Â
Lalu, siapa yang melakukan pembakaran dan anarkisme di sana. Apalagi kemudian, penguasa menjadikan aksi anarkisme itu sebagai alasan untuk membungkam gerakan mahasiswa dengan mengeluarkan aturan tentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).
Pada 1998, unjuk rasa mahasiswa dalam skala besar terjadi sejak awal Mei tahun itu. Terpilihnya Soeharto sebagai Presiden RI, setelah berkuasa selama 32 tahun, mulai memunculkan penolakan.Â
Krisis moneter membuat ekonomi negeri ini terpuruk hingga titik terendah. Nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar AS, akibatnya harga barang juga melonjak membuat rakyat menjerit.
Awalnya, aksi demonstrasi sporadis saat itu berlangsung di kampus masing-masing. Namun, menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), aksi mulai cair. Jumlah mahasiswa yang berdemonstrasi makin bertambah.Â
Tuntutannya, turunkan harga, pemerintahan yang bersih tanpa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), hapuskan dwifungsi ABRI, pelaksanaan otonomi daerah, dan menegakkan supremasi hukum.
Situasi mulai genting ketika aksi damai mahasiswa Universitas Trisakti yang dilakukan di dalam kampus pada 10 Mei 1998 pecah menjadi kepanikan. Polisi bertindak represif ketika mahasiswa berjalan ke luar kampus.Â
Peringatan tragedi Semanggi
Tembakan yang tak ketahuan berasal dari mana, mengarah ke kerumunan mahasiswa. Empat orang tewas tertembak peluru tajam.Â