- VIVAnews/Nur Faishal
"Kalau 98 hampir semua orang sangat paham kenapa harus bergerak, karena isunya terkait dengan krisis ekonomi. Hampir di setiap gang-gang kecil, kampung-kampung, semua ibu rumah tangga itu sudah mengeluh," ujar dia.
Jadi, menurut dia, gabungan kesadaran antara kelas menengah yang merasa kekuasaan represif Soeharto sudah terlalu lama, bertemu dengan kenyataan hidup masyarakat yang saat itu dalam kesulitan.
Menurutnya, kondisi sekarang tidak sama. Gerakan mahasiswa sekarang ini menjadi aksi yang didasari kesadaran politik untuk masa depan. Dari pola komunikasi juga sangat berbeda.
Zaman dulu belum ada handphone, media sosial, belum ada portal online. Penyebaran informasi sangat terbatas. Komunikasi terjadi karena pertemanan, pertemuan langsung. Pada 1990-an sudah ada pager, tapi tak semua mahasiswa punya.
"Jadi memang gerakan dulu itu dibangun karena kesadaran yang sama atas represi yang dilakukan oleh Orde Baru. Jadi semacam akumulasi kemarahan yang terjadi puluhan tahun," kata Savic.
Gerakan dulu itu, dia melanjutkan, memang dilakukan oleh komunitas-komunitas pergerakan yang memang sudah lama melakukan upaya-upaya atau mengkritisi atau menentang kebijakan tersebut.
Mahasiswa sekarang, menurut Savic, lebih paham dengan peristiwa dan isu yang berkembang di media. Jika mahasiswa dulu memahami peristiwa hanya dari berlangganan koran, dan tak semua berlangganan, maka mahasiswa sekarang punya akses luas ke sumber informasi, terutama media online.
Demo mahasiswa di DPR/MPR
Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, juga mengakui perbedaan besar pola gerakan mahasiswa 2019 dengan kakak-kakaknya terdahulu. Saat ini, isu yang diusung mahasiswa banyak dan terkait dengan undang-undang. Dan yang menjadi trigger-nya adalah UU KPK.
Pola gerakan mahasiswa sekarang, menurut Hendri, juga sangat modern karena mampu memaksimalkan penggunaan gawai dan teknologi lainnya. Penyebaran informasi dan koordinasi terjadi dengan cepat karena memaksimalkan fitur percakapan melalui media sosial.
Hendri juga mengakui bagaimana mahasiswa sekarang lebih mudah berkoordinasi. Dulu, ujarnya, banyak pembagian tugas setiap menjelang aksi.
Tapi sekarang ini, dia melanjutkan, “Kalau mahasiswa mau jalan, ya jalan saja”. Instruksinya hanya melalui WhatsApp group. Bahkan ketika di gedung DPR RI dilakukan jumper, mereka tetap bergerak.