- VIVAnews/Nur Faishal
Pada 25 Oktober 1965, sejumlah mahasiswa dari organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakaan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL), dan beberapa organisasi lain bergabung.
Mereka melebur dalam wadah baru Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Sejak pembentukan KAMI, aksi mahasiswa berlangsung nyaris tanpa henti.
Aksi mahasiswa pada 1966 terkenal dengan jargon Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura). Ada tiga hal yang mereka jadikan isu, yaitu Bubarkan Partai Komunis Indonesia, Bubarkan Kabinet Dwikora, dan Turunkan Harga Barang.
Pada 21 Februari 1966, Presiden Soekarno mengumumkan reshuffle kabinet. Dalam reshuffle tersebut, para simpatisan PKI masih dijadikan menteri oleh Soekarno. Perubahan itu malah meningkatkan eskalasi gerakan mahasiswa.
Presiden Soekarno bersalaman dengan Tan Joe Hok
Acara pelantikan menteri-menteri baru diboikot mahasiswa. Dalam demonstrasi pada 24 Februari 1966, Arif Rahman Hakim tewas tertembak oleh pasukan Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Pada 25 Februari 1966, KAMI dibubarkan, tapi pembubaran itu membuat mahasiswa makin menguat perlawanannya menuntut Tri Tuntutan Rakyat.
Aksi ini terus dilakukan hingga akhirnya Soeharto mengaku menerima mandat dari Presiden Soekarno melalui Surat Perintah 11 Maret (Super Semar). Melalui surat itu, Mayor Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat mengaku mendapat mandat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Dengan mandat itu, Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia. Aksi mahasiswa yang didukung oleh berbagai elemen termasuk grass roots mencatat, era Soekarno beralih ke Soeharto. Peralihan itu terkenal dengan tumbangnya Orde Lama, berganti menjadi Orde Baru.
Pada 1974, mahasiswa kembali turun ke jalan. Meninggalkan bangku kuliah dan bergerak bersama. Situasi sosial politik rupanya tak segera pulih meski presiden telah berganti.
Mahasiswa menganggap arah ekonomi Soeharto terlalu pro-asing. Meski investasi Indonesia saat itu didominasi Amerika Serikat, tapi Jepang lebih tampak. Saat itu, pada 15 Januari 1974, berbarengan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuie Tanaka.
Jusuf Wanandi, dalam bukunya “Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998” (2014), menulis aksi itu dimulai dengan apel bersama mahasiswa dan pelajar di halaman kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta. Ribuan demonstran itu lalu bergerak berjalan kaki menuju Kampus Universitas Trisakti dan lanjut ke Istana Negara melalui Jalan M.H. Thamrin.