SOROT 575

Selamat Tinggal Cebong-Kampret

Presiden Jokowi dan Wapres terpilih Ma'ruf Amin di Sentul 14 Juli 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Gerindra Mendekat

img_title Lapor ke Prabowo, Mendagri: Sejumlah Pemda Terdampak Bencana NTT Lambat Cairkan Anggaran

Jelang pelantikan, publik negeri ini disajikan drama politik yang bagi sebagian bisa jadi membingungkan dan mengecewakan. Prabowo yang selama ini memiliki pendukung fanatik dengan politik identitas, tiba-tiba menunjukkan gelagat mendekat pada Jokowi. Puncaknya adalah kedatangan Prabowo ke Istana Negara, bertemu dengan Jokowi dan saling mengakui hubungan mereka masih mesra.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di hadapan puluhan wartawan, Prabowo mengatakan tak pernah bermusuhan dengan Jokowi. Tak ada pernyataan resmi apakah Prabowo dan Gerindra akan mendukung Jokowi dan bergabung dalam partai koalisi. Namun melihat kedekatan keduanya, pemilih fanatik Jokowi dan Prabowo layak kecewa. Mereka, yang selama ini diistilahkan sebagai cebong (untuk pendukung Jokowi) dan kampret (untuk pendukung Prabowo) dipaksa melihat, kompetisi politik tak lebih dari sebuah perebutan kekuasaan yang kemudian bisa dikompromikan.

img_title Idrus Marham: Presiden Prabowo Istiqomah Sebagai Muslim Sejati

Prabowo Bertemu Presiden Jokowi

Politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengaminkan bahwa istilah cebong dan kampret sudah waktunya dihentikan. "Sudah tidak perlu namanya cebong kampret. Artinya ya sudah. Kita punya kesadaran yang sama bahwa kita menghadapi tantangan yang sama dan kita punya tekad yang sama sebagai sebuah bangsa untuk maju bersama," katanya.

img_title BNPB Lapor Prabowo Ada Pelaku Karhutla yang Sengaja Bakar Hutan di Jambi, Dibayar Rp500 Ribu

Yang lebih utama, katanya, semua pihak harus mengelola berbagai dinamika ini menjadi suatu keunggulan yang belum tentu dimiliki negara-negara lain. Banyak yang gagal mengelola dinamika demokrasi, kemudian yang terjadi adalah perpecahan. "Tapi kita bersyukur mampu mengelola berbagai perbedaan itu dalam situasi yang sesulit apa pun," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wasekjen PKB Dita Indah Sari setuju agar publik yang sudah terpolarisasi dengan tajam meninggalkan istilah cebong-kampret. Sekarang ini yang penting adalah integrasi nasional yang berperspektif multikultural. Jangan ada represi atas ekspresi identitas tapi juga harus dicari cara agar identitas itu tidak menimbulkan chauvinisme atau primordialisme. Konsolidasi namun tetap kritis dan awas, terutama terkait kebijakan-kebijakan yang berintensi tidak pro rakyat.

"Nah, soal apakah imbauan peniadaan sebutan cebong dan kampret akan diikuti atau tidak, saya rasa ini kembali ke analisa saya di atas soal self esteem si pemilih/pendukung. Kerusakan hubungan horizontal akibat pilpres kemarin itu sebetulnya besar. Mari sama-sama berproses dalam berpolitik. Bagaimanapun kita selaku pemilih juga bagian dari sejarah berjalannya demokratisasi," ujar Dita.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut