- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Gerindra Mendekat
Jelang pelantikan, publik negeri ini disajikan drama politik yang bagi sebagian bisa jadi membingungkan dan mengecewakan. Prabowo yang selama ini memiliki pendukung fanatik dengan politik identitas, tiba-tiba menunjukkan gelagat mendekat pada Jokowi. Puncaknya adalah kedatangan Prabowo ke Istana Negara, bertemu dengan Jokowi dan saling mengakui hubungan mereka masih mesra.
Di hadapan puluhan wartawan, Prabowo mengatakan tak pernah bermusuhan dengan Jokowi. Tak ada pernyataan resmi apakah Prabowo dan Gerindra akan mendukung Jokowi dan bergabung dalam partai koalisi. Namun melihat kedekatan keduanya, pemilih fanatik Jokowi dan Prabowo layak kecewa. Mereka, yang selama ini diistilahkan sebagai cebong (untuk pendukung Jokowi) dan kampret (untuk pendukung Prabowo) dipaksa melihat, kompetisi politik tak lebih dari sebuah perebutan kekuasaan yang kemudian bisa dikompromikan.
![]()
Politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengaminkan bahwa istilah cebong dan kampret sudah waktunya dihentikan. "Sudah tidak perlu namanya cebong kampret. Artinya ya sudah. Kita punya kesadaran yang sama bahwa kita menghadapi tantangan yang sama dan kita punya tekad yang sama sebagai sebuah bangsa untuk maju bersama," katanya.
Yang lebih utama, katanya, semua pihak harus mengelola berbagai dinamika ini menjadi suatu keunggulan yang belum tentu dimiliki negara-negara lain. Banyak yang gagal mengelola dinamika demokrasi, kemudian yang terjadi adalah perpecahan. "Tapi kita bersyukur mampu mengelola berbagai perbedaan itu dalam situasi yang sesulit apa pun," ujarnya.
Wasekjen PKB Dita Indah Sari setuju agar publik yang sudah terpolarisasi dengan tajam meninggalkan istilah cebong-kampret. Sekarang ini yang penting adalah integrasi nasional yang berperspektif multikultural. Jangan ada represi atas ekspresi identitas tapi juga harus dicari cara agar identitas itu tidak menimbulkan chauvinisme atau primordialisme. Konsolidasi namun tetap kritis dan awas, terutama terkait kebijakan-kebijakan yang berintensi tidak pro rakyat.
"Nah, soal apakah imbauan peniadaan sebutan cebong dan kampret akan diikuti atau tidak, saya rasa ini kembali ke analisa saya di atas soal self esteem si pemilih/pendukung. Kerusakan hubungan horizontal akibat pilpres kemarin itu sebetulnya besar. Mari sama-sama berproses dalam berpolitik. Bagaimanapun kita selaku pemilih juga bagian dari sejarah berjalannya demokratisasi," ujar Dita.