SOROT 584

Gurihnya Dinasti Politik

Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, berorasi di hadapan para pendukungnya usai mendaftar sebagai bakal calon wali kota Solo di kantor PDIP Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 12 Desember 2019.
Sumber :
  • VIVAnews/Dwi Royanto

"Saat ini kita sedang menjaga ruang publik. Penting untuk semua pihak tidak membangun budaya yang diindikasikan nepotisme. Akan sangat baik anak atau kerabat siapapun menghargai proses. Mulai dari bawah. Bukan sekadar menang Pilkada atau kontestasi publik tapi yang utama dapat merasakan tanggung jawab besar utk memajukan daerah.

img_title Survei LPI di Cagub Kaltim: 50,3% Masyarakat Menolak Memilih Dinasti Politik

Menurut Dini Suryani, kecenderungan terjadinya dinasti politik akan langgeng. Sebab, ketika jabatan politik sudah didapat oleh beberapa anggota keluarga, maka akan lebih mudah untuk mendapat jabatan lain. Cara mempertahankannya adalah dengan terus menaruh anggota keluarga di jabatan-jabatan publik dari baik dalam kekerabatan vertikal (anak, cucu, dan seterusnya) maupun horizontal (istri, ipar, sepupu, dan seterusnya).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dalam peletakan anggota keluarga tersebut, faktor kekerabatan lebih dominan dibanding faktor kompetensi yang bersangkutan," ujarnya.

img_title Menurut Penelitian, Wilayah yang Dikuasai Dinasti Politik Identik dengan Kemiskinan

Tapi, ujar Dini, politik dinasti jelas merugikan publik. Ia mengutip adagium dalam ilmu politik yang disampaikan oleh Lord Acton, yaitu 'power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.' (Kekuasaan memiliki kecenderungan untuk korupsi. Kekuasaan yang absolut, juga akan absolut korupsi.)

Politik dinasti juga membuat kekuasaan terpusat di satu kelompok, dan itu akan memperbesar kemungkinan kekuasaannya untuk dikorupsi. Secara teknis, ujar Dini, fungsi 'checks and balances' tidak akan jalan jika pemegang kekuasaan legislatif dan eksekutif berasal dari satu keluarga.

img_title Unggah Kopi Tubruk, Anies Ikutan Senggol Asian Value dan Human Rights

Dini lalu menunjuk Banten yang terjebak dalam gurita politik dinasti selama puluhan tahun. Sebagai wilayah yang terdekat dengan ibu kota, Banten seharusnya bisa lebih maju. Tetapi, karena anggaran negara dikuasai oleh beberapa kelompok (sebagai catatan politik dinasti di Banten bukan hanya klan Atut), masyarakat tidak bisa merasakan dampak pembangunan secara maksimal.

Baca Juga

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dinasti Politik, dari Jakarta hingga Madura 

Dinasti Politik di Tanah Jawara

Ilustrasi pilkada serentak 2024

Polemik Pilkada 2024: Diwarnai Calon Tunggal, Mantan Napi, hingga Politik Dinasti

Tepat hari ini Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Ada beberapa polemik yang kembali menuai perhatian publik.

img_title
VIVA.co.id
27 November 2024
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut