- Vivanews
Meredanya eskalasi perang perdagangan antara Amerika Serika dengan China pada dasarnya mulai menemukan titik terang pada awal tahun ini. Presiden AS Donald Trump menjanjikan melalui akun resmi Twitternya bahwa kesepakatan perdagangan Fase Satu antara AS dan China akan dilaksanakan pada 15 Januari 2020 di Gedung Putih.
Namun begitu, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam menegaskan, kondisi itu pada dasarnya menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi bahwa eskalasi perang perdagangan antara AS dan China akan benar-benar mereda mulai tahun ini.
"Kita cukup tahu karakternya presiden Trump yang tidak bisa ditebak. Kita belum bisa memastikan ending-nya seperti apa, atau mungkin ada gebrakan baru nanti dari presiden Trump," ujar Piter saat berbincang dengan VIVAnews, Jumat 3 Januari 2020.
Karena itu lanjut Piter, CORE Indonesia tetap memperkirakan bahwa selama Presiden AS Donald Trump memimpin, maka selama itu ketidakpastian global akan menyelimuti negara-negara ekonomi berkembang. Karena, perdagangan dunia akan melambat karena perang dagang.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirkan juga akan terus mengalami perlambatan, yakni mencapai kisaran 4,9-5,1 persen pada 2020. Perkiraan CORE Indonesia memang jauh lebih rendah dari target yang dipatok pemerintah pada 2020 yakni 5,3 persen. Angka  itu bukanlah yang terlalu pesimistis karena hingga Kuartal III 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,02 persen.
Akan tetapi, Piter menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode itu tidak akan sampai pada kondisi resesi sebagaimana yang hampir dihadapi negara-negara lain. Sebab, konsumsi domestik di Indonesia yang besar, masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan walaupun mengalami perlambatan.
"Inflasi inti yang melambat (pada 2019) memang merefleksikan penurunan demand. Pemerintah saya kira harus mewaspadai ini (Dinamika Global) apabila ingin bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun 2020," tuturnya.
Di sisi lain, Institute For Development of Economics and Finance atau Indef menilai, resesi ekonomi global sudah di depan mata. Hal ini karena  pertumbuhan ekonomi negara-negara  maju semakin melesu bahkan diproyeksikan akan berada di level 1,7  persen pada 2020.