Rahasia Kemenangan Jokowi

'War Room' Jokowi-Ahok
'War Room' Jokowi-Ahok
Sumber :
  • Dokumentasi 'War Room dan Data Center Jakarta Baru'

VIVAnews – Ratusan orang berbaju kotak-kotak duduk berjejer menghadap meja memanjang. Masing-masing  sibuk dengan laptop menyala. Mereka masih muda, anak-anak bujang dan dara.  Ada yang bercakap di telepon genggam, mengetik pesan singkat, membaca pesan masuk, atau mencatat sesuatu di block note. Sebagian lagi sibuk menulis sesuatu di laptop.

Di ruangan itu semua orang tampak begitu repot. Berada di lantai basement 1 Ruang Andalusia, Gedung 165, di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, inilah “War Room dan Data Center Relawan Jakarta Baru”. Pada hari pemungutan suara 20 September lalu, setiap detik terasa begitu penting di sini.

Relawan Jakarta Baru adalah salah satu sayap sukarelawan pendukung Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

 “Ruang perang” itu dikomandani seorang anak muda. Namanya Hasan Nasbi.  Dia adalah Direktur Eksekutif Cyrus Network, yang disewa sebagai konsultan politik Jokowi-Ahok. Hasan merancang  ‘pusat syaraf’ ini sejak hari pertama Jokowi-Ahok maju di Pilkada DKI Jakarta.

War Room itu lah yang memantau relawan di lapangan. Mereka menerima pengaduan, kampanye,  dan pemantauan di sosial media. Semua berita di media massa dipelototi. Tentu, mereka siaga mencatat data hasil pemilihan dari semua tempat pemungutan suara (TPS).

Di lapangan, jumlah mereka lumayan besar: total ada 15 ribu relawan.  Mereka bekerja sejak H-3 dan sampai H+1 pemilihan. Siang dan malam. Ribuan pasukan Jokowi itu dikoordinasikan 706 koordinator, dan dipandu 42 supervisor. Para supervisor ini menggodok konsep, kreasi dan strategi media.

Pada hari “tempur”, seperti pada 20 September lalu,  War Room itu mengkoordinasikan lebih dari 45 ribu relawan.  Sekitar 30 ribu lainnya berasal dari dua partai pendukung Jokowi-Ahok. “Satu orang operator data center akan mengawasi 300 saksi di lapangan via online," ujar Hasan yang mendapat gelar Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Indonesia itu.