SOROT 297

Menyulap Lokalisasi Jadi Terminal Bus

pasar kembang
Sumber :

VIVAnews - Pikiran Anik menerawang sejenak ke masa lalu. Belasan tahun yang lalu, dia masih berstatus pekerja seks komersil (PSK) di "Kota Pelajar" Yogyakarta.

Di Surabaya ada Dolly, dulu di Yogyakarta ada Sanggrahan. Anik merupakan salah satu penghuni lokalisasi itu, yang populer dengan singkatan "SG."

Sudah sejak 1997 lokalisasi SG ditutup. Kini menjadi Terminal Bus Giwangan, mengganti terminal lama, Umbulharjo.

img_title Heboh! Lesti Kejora Ditegur Menantu Siti Nurhaliza, Begini Kronologinya

terminal giwangan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terminal bus Giwangan, Yogyakarta, dulunya merupakan tempat lokalisasi.

img_title Ganti-ganti Pelat Nomor demi BBM Subsidi, 4 Pengendara di Kota Metro Lampung Berurusan dengan Polisi

Sewaktu masih jadi lokalisasi, tempat itu ramai dengan lenggak-lenggok para perempuan demi memikat pria hidung belang yang ingin memuaskan birahi dengan tarif tertentu. Kini, kesibukan di tempat itu berganti dengan teriakan para kenek bus mencari calon penumpang di terminal.

Berubah pula profesi sebagian penghuni SG, termasuk Anik. Kini, perempuan 45 tahun itu jadi pengusaha, punya warung dan karaoke di Kawasan Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, DIY. Sebelumnya Anik berbisnis di SG, tapi terpaksa pindah karena kontrak hak sewa sudah habis dan tidak bisa diperpanjang.  

"Kontraknya selama 20 tahun, sehingga seharusnya pada tahun 1995 sudah ditutup. Namun para penghuni SG, baik induk semang dan anak buahnya, minta diundur selama 2 tahun sehingga baru pada tahun 1997 SG ditutup untuk selamanya," kata dia.

Lanjut Anik, pemerintah kota kala itu membeli seluruh rumah yang digunakan untuk prostitusi. Sedangkan para pekerja seks juga mendapatkan pesangon sebesar Rp 300.000 per orang untuk meninggalkan tempat itu.

"Rumah yang digunakan untuk prositusi di SG sekitar 50 hingga 60 rumah. Dalam setiap rumah terdapat 1 induk semang yang memiliki 5 hingga 6 anak buah. Sehingga penghuni di lokalisasi SG sekitar 300-an orang," jelasnya.

Tidak jauh dari terminal bus, dibangun pula pasar induk sayur dan buah. Ini demi membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar SG.

"Banyak warga yang beralih menjadi pedagang sayur dan buah yang buka selama 24 jam di pasar buah dan sayur giwangan. Ada juga warga yang menjadi agen bus malam. Saat ini ekonomi warga sudah pulih kembali bahkan mungkin lebih makmur," ujar Sukro Riyadi. Dia warga Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

SG merupakan salah satu contoh upaya pemerintah setempat menutup kawasan lokalisasi dan mengubahnya menjadi fasilitas umum seperti terminal bus. Ini proses yang tidak mudah. Mengubah kehidupan para penghuninya tidak semudah merobohkan bangunan.

Seperti lokalisasi di sejumlah daerah, penutupan SG juga tak luput dari pro dan kontra. Anik tahu persis ceritanya.

Setelah ditutup oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dan sebelum dibangun Terminal, para induk semang dan anak buah mereka pergi dari SG dan menyebar ke berbagai daerah seperti Magelang, Semarang, Madiun dan Surabaya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut