SOROT 307

Ke Mana BBM Subsidi?

Pembatasan BBM Bersubsidi
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVAnews - Raut wajahnya terlihat lelah. Sorot matanya memandang jauh. Di depannya masih berderet 15 motor. Berjejer teratur di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Bekasi.

Selasa, 26 Agustus 2014, di pergelangan tangannya jam sudah menunjuk pukul 05.50 WIB. Pria berusia 60 tahun itu harus berburu dengan waktu.

Sudah 30 menit, Pakde, sapaan bapak beranak satu itu, belum mendapat premium untuk sepeda motornya. Hari itu, dia harus mengantar anak-anak pelanggannya ke sekolah.

“Masih harus jemput dan antar tiga anak mas. Kasihan kalau mereka telat ke sekolah,” kata Pakde kepada VIVAnews.

Ya, Pakde adalah pengojek yang beroperasi di kawasan Jatiasih, Bekasi. Setiap hari, dia menghidupi istri dan keluarganya dari hasil mengojek.

Sudah belasan tahun dia menekuni pekerjaan itu. Berbekal sepeda motor keluaran tahun 2006, dua hingga tiga kali seminggu, dia rutin mengisi tangki bahan bakar motornya.

Namun, pemandangan berbeda dia temui pagi itu. Antrean mobil dan sepeda motor sudah mengular di SPBU, tempat ia biasa mengisi premium.
“Hari ini nggak ada premium mas. Kata petugasnya habis. Ya, terpaksa isi pertamax dulu,” ujar dia.

Pakde bukan satu-satunya yang merasakan susahnya mendapat premium belakangan ini. Kondisi itu ditengarai sudah terjadi sejak pertengahan Agustus 2014 lalu.

Di berbagai daerah di Indonesia, antrean panjang di sejumlah SPBU juga terjadi. Di Yogyakarta, Bogor, Palembang, Denpasar, Kalimantan, hingga Aceh, “kepanikan” sempat menghinggapi sebagian masyarakat.

Di Yogyakarta misalnya, Joko, salah satu pengecer BBM bersubsidi harus rela bermalam di SPBU Patalan, Jalan Yogya-Parangtritis untuk sekadar mengisi satu jeriken dengan kapasitas 30 liter.

Senin malam, 25 Agustus 2014, dia sudah mengantre sejak pukul 22.00 WIB.  Namun, baru mendapatkan BBM keesokan harinya, Selasa 26 Agustus 2014 sekitar pukul 10.00 WIB.

Harga BBM eceran itu biasanya dijual Rp10.000 per liter. Ada juga yang masih menjual Rp8.500 per liter, tapi dengan takaran kurang dari 1 liter.

"Penjual BBM eceran beralasan harga bensin naik, karena mencari sulit dan harus antre semalaman," ujar Wanti (42).

Warga Badekan, Kabupaten Bantul itu memilih antre di SPBU daripada harus membeli bensin eceran yang harganya melonjak. Meskipun, dia perlu 30 menit untuk mendapatkan 4 liter premium.

Dari pantauan VIVAnews di SPBU Bantul Kota, Yogyakarta, pengguna sepeda motor dan mobil juga sudah antre premium sejak pukul 07.00 WIB. Hingga pukul 10.30 WIB, antrean mobil bahkan sudah mencapai 300 meter. Sementara itu, sepeda motor mengular dua lajur sekitar 150 meter.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title 7 Poin Klarifikasi GRIB Jaya Pascaperistiwa 27 Agustus
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut