- VIVAnews/Ahmad Rizaluddin
Ia juga menyoroti distribusi buku ajar yang belum merata. Menurut dia, hal itu akan menyulitkan dalam proses belajar mengajar.
Selain itu, banyak guru yang belum mendapat pelatihan. Ia juga menilai kurikulum baru ini terlampau rumit terkait metode pembelajaran yang diterapkan ke siswa. Selain guru, hal itu juga akan menyulitkan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan.
Dukungan juga datang dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti mengatakan, Kurikulum 2013 terkesan terburu-buru dan tak diimbangi dengan persiapan yang matang.
Menurut dia, penghentian itu setidaknya harus dilakukan selama setahun. Sehingga, ada waktu untuk membenahi kembali fundamental kurikulum, baik dari sisi substansi maupun teknis.
"Fundamental kurikulum ini sudah bermasalah. Karena itu kurikulum ini boleh disebut gagal secara terstruktur dan sistematis," ujarnya kepada VIVAnews, Kamis, 11 Desember 2014.
Retno menambahkan, indikasi kegagalan Kurikulum 2013 telah terlihat. Seperti, belum meratanya distribusi buku ajar ke seluruh Indonesia, juga guru yang belum siap.
Akibatnya, penerapan kurikulum ini menjadi tersendat. "Baiknya kita kembali ke Kurikulum 2006. Setidaknya kita sudah siap," kata Retno.
Dari hasil pantauan FSGI dan aduan dari sejumlah daerah, banyak sekolah yang kesulitan pasca penerapan Kurikulum 2013. Misalnya di sekolah swasta. Dengan alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang hanya sebesar Rp19 juta, ada yang terpaksa menggunakan dana BOSnya untuk membeli buku hingga Rp24 juta.
Pun di sekolah negeri. Ada yang mendapatkan dana BOS Rp227 juta, namun harus membeli buku hingga Rp190 juta. Penerapan Kurikulum 2013 juga tak merata, hanya menyasar sekolah yang terakreditasi A dan eks Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).
"Namun, terlepas dari semua itu, kurikulum ini memang harus dibenahi secara total. Penghentian kurikulum ini adalah langkah bijak dan patut untuk didukung," kata Retno.
Pihak sekolah juga menyambut gembira keputusan ini. Kepala SDN Palmerah 03 Jakarta Barat, Sarita Siregar mengatakan, banyak guru yang belum terbiasa.
"Guru-guru kami banyak yang menyambut bahagia dengan penghentian Kurikulum 2013. Soalnya banyak yang belum faham dengan metode mengajarnya," kata Sarita kepada VIVANews, Rabu, 10 Desember 2014.