Dalam Cengkeraman ISIS dan Ebola

ISIS rilis video baru pelatihan tentara anak.
ISIS rilis video baru pelatihan tentara anak.
Sumber :
  • YouTube
VIVAnews - "Pagi tadi aku melihat putraku mengenakan seragam, tersenyum sebelum berangkat ke sekolah. Sekarang, dia ada dalam kantung mayat. Putraku, mimpiku. Mimpiku telah dibunuh. Tidak ada lagi yang dapat membuatku tetap semangat untuk hidup." Begitu ungkapan Tahir Ali.


Pekerjaan berat sebagai buruh dijalani Tahir Ali, dengan tekad dapat memberikan pendidikan yang layak bagi putranya, yang tewas di usia 14 tahun dalam pembantaian ratusan siswa oleh militan, pada 16 Desember lalu di Peshawar, Pakistan.


Kepedihan yang dialami Tahir, juga dirasakan ratusan ribu keluarga korban kekerasan kelompok-kelompok militan di berbagai negara. Di Irak, seorang perempuan Yazidi mengirim pesan singkat pada kakak laki-lakinya.

Dia disekap dan diperkosa oleh puluhan militan, yang mengklaim tengah berjuang untuk tujuan yang mulia. Ada ribuan perempuan sepertinya, bahkan yang masih anak-anak berusia di bawah 9 tahun, diculik untuk diperdagangkan sebagai budak seks.

Sementara para pria, termasuk anak-anak, dibunuh dengan cara digorok lehernya dan direkam untuk menjadi video propaganda. Para pemimpin ISIS menyerukan pada pendukungnya di banyak negara, untuk melakukan kekejaman serupa.

Berbagai laporan tentang aksi teror yang dilakukan tanpa belas kasihan, menyeruak di sepanjang 2014, melengkapi berbagai kisah sedih yang terjadi dalam beragam peristiwa lain, seperti ditembak jatuhnya pesawat dari maskapai yang sama, pada 17 Juli di Ukraina.

Sementara di Afrika, belasan ribu anak-anak kehilangan orangtua dan keluarganya, yang meninggal karena terinfeksi ebola. Virus mematikan itu menyebar dengan cepat, dengan rendahnya perhatian terhadap kawasan termiskin di dunia itu.

Awal Mula Ebola

Seorang anak pada sebuah desa di pelosok Guinea, Desember 2013. Kematian menjadi hal yang biasa terjadi di negara termiskin Afrika itu, tidak ada perhatian yang serius diberikan untuk Emile Ouamouno, yang meninggal di usia dua tahun.

Bahkan tetap tidak ada yang menarik bagi dunia, setelah beberapa hari kemudian ibu bocah itu meninggal, disusul kakak perempuannya Philomene, serta neneknya tepat pada perayaan Tahun Baru 2014. Satu keluarga di desa Meliandou itu, meninggal dengan gejala yang sama.

Tapi baru pada Maret dunia mendengar tentang ebola, saat Badan Kesehatan Dunia (WHO) meneruskan laporan Menteri Kesehatan Guinea, tentang virus mematikan yang mewabah di empat distrik, dan kemungkinan telah menyebar juga ke Liberia dan Sierra Leone.

Total 86 kasus, termasuk 59 kematian dilaporkan hingga 24 Maret. Pada akhir Mei, epidemi telah terjadi di Conakry yang merupakan ibukota Guinea, dengan dua juta penduduk. Pada 28 Mei, jumlah kasus mencapai 281 dan 186 jiwa meninggal.

Di Liberia, ebola dilaporkan sudah menyebar di empat kota, pada pertengahan April. Sementara di ibukota Liberia, Monrovia, ebola dilaporkan terjadi pertengahan Juni. Saat mencapai Sierra Leone, wabah menyebar lebih cepat.

Pada 17 Juli, jumlah kasus telah mencapai 442 penderita, melebihi Liberia dan Guinea yang menjadi tempat pertama terjangkitnya ebola. Masyarakat dunia dengan cepat dikejutkan, oleh berita tentang ebola yang mematikan.
Halaman Selanjutnya
img_title