Sumber :
- YouTube
Baca Juga
Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan, mengatakan, tidak ada vaksin ebola saat ini karena perusahaan-perusahaan farmasi memalingkan perhatian dari pasar yang tidak mampu membayar.
Sejak Piot dan timnya pertama kali menemukan ebola, tercatat telah terjadi sedikitnya 25 kali wabah, tapi tidak ada vaksin sampai saat ini karena epidemi hanya terjadi di negara-negara miskin Afrika Barat.
Selama beberapa dekade, ebola dan Afrika tidak dilihat sebagai pasar yang menarik bagi perusahaan-perusahaan farmasi dunia. "Industri pengejar keuntungan tidak menanamkan modal dalam bentuk produk bagi pasar yang tidak mampu membayar," kata Chan.
Pada seminar di Universitas Oxford, Oktober, Piot mengatakan secara teoritis ebola sangat mudah dikendalikan, tapi saat ini situasinya di luar jangkauan. "Ini bukan lagi sebuah epidemi, ini krisis kemanusiaan," katanya.
Pernyataan Piot menggambarkan keseluruhan masalah. Penyakit mudah menjadi epidemi di negara-negara Afrika yang miskin, dan tidak memiliki sistem kesehatan yang baik. Diperparah dengan kenyataan, mengenai pertimbangan keuntungan.
Tidak banyak perusahaan farmasi yang mau mempersiapkan obat, yang tidak akan menghasilkan banyak keuntungan bagi mereka. Sehingga yang terjadi adalah krisis rasa kemanusiaan.
ISIS
Satu kelompok militan radikal mengejutkan dunia, pada 29 Juni 2014, saat mereka mengumumkan berdirinya ISIS, sebuah kekhalifahan Islam di Irak dan Suriah, segera setelah mereka berhasil menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak.
Banyak analis politik mengatakan ISIS muncul karena kebijakan intervensi AS. Dimulai dengan invasi ke Irak dan digulingkannya Saddam Hussein, pada 2003, yang menyebabkan kekosongan kekuasaan, dan konflik sektarian antara suni dan syiah.
Pada 2011, AS dan negara-negara Barat yang menjadi sekutunya kemudian bersikeras melakukan intervensi di Suriah, untuk menggulingkan kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Aksi protes dengan cepat berubah menjadi pemberontakan bersenjata.
Arab Saudi, Qatar dan Turki melihat Suriah sebagai kesempatan untuk memperlemah Iran dan Hizbullah, yang mereka anggap sebagai musuh selama ini, secara terbuka memasok dana dan senjata pada kelompok ekstrimis seperti ISIS serta Jabhat al-Nusra.
Dua kelompok radikal yang berafiliasi dengan Al-Qaeda itu, dengan cepat menjadi kelompok pemberontak paling kuat untuk melawan pasukan pemerintah Suriah. Selama delapan tahun di Irak, pasukan AS berusaha menghabisi Al-Qaeda yang kemudian terdesak keluar.
Halaman Selanjutnya