Hobi Bikin Hoki

mie ayam grobakan
mie ayam grobakan
Sumber :
  • VIVAnews/Mustakim

VIVAnews - Suara mesin terdengar dari ruang berukuran separuh lapangan bulu tangkis. Seorang perempuan tampak sibuk. Ia menunduk, jemarinya mengolah adonan di sebuah mesin berbentuk kotak. Tampak besi pipih melintang di dalamnya.

Tak jauh, seorang pria menyiapkan dua baskom plastik. Ukurannya tak cukup besar, persis di samping mesin yang terus mengeluarkan suara itu. Adonan warna kuning yang sedang diolah ini merupakan bahan untuk membuat mi. Bau amis tercium dari adonan yang merupakan campuran tepung dan telur.

Setelah dirasa cukup, dua orang ini langsung memindahkan adonan ke mesin penggiling. Sedikit demi sedikit, adonan yang sudah memadat itu dimasukkan ke mesin yang bersuara halus dan berbentuk memanjang. Adonan langsung berubah bentuk menjadi pipih.

Dua orang ini berbagi tugas. Satu memasukkan adonan ke dalam mesin. Sementara itu, satunya menggulung adonan yang sudah pipih tersebut.

Mereka terus melakukannya secara berulang, hingga adonan tersebut siap dibentuk menjadi mi. Adonan pipih yang sudah menjadi mi itu langsung meluncur dan masuk ke dalam baskom yang sudah disiapkan di bawah. Mereka langsung memilah mi yang sudah jadi itu agar tak lengket. Sesekali, mereka menaburi gundukan mi tersebut agar mudah dipisah.

Dua orang ini merupakan karyawan Wahyu Indra (42), pendiri dan pemilik usaha Mie Ayam Grobakan. Mereka sedang membuat mi guna didistribusikan kepada ratusan pedagang mi ayam di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) serta sejumlah kota lain di luar Pulau Jawa. Dalam sehari, mereka bisa memproduksi seratus hingga dua ratus kilogram mi.

Tak ada yang istimewa dari "pabrik" mi milik Wahyu ini. Hanya ada tiga mesin di ruangan ini, yakni mixer untuk mengaduk telur, mesin pengolah adonan serta mesin untuk mengubah adonan menjadi mi. Juga ada baskom dan mesin pendingin (freezer) untuk menyimpan mi yang sudah jadi. Sisanya, hanya tumpukan peti, gundukan tepung serta sejumlah botol yang berserak di pojok ruangan.

“Saya tak menduga usaha ini bisa berkembang sejauh ini,” ujar Wahyu membuka percakapan, saat VIVAnews berkunjung ke rumahnya di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis, 8 Januari 2015. Sebab, awalnya Wahyu merintis bisnis tersebut hanya untuk pekerjaan sampingan setelah istrinya mundur dari perusahaan.

Berawal dari Hobi
Wahyu merintis bisnis mi ayam sejak 2 Oktober 2008. Awalnya, ia menggunakan nama "Bakmiku" untuk lapak mi ayam perdananya. Warung mi ayam dengan brand Bakmiku ini dibuka tepat dua pekan setelah Lebaran. Alasannya, pada pekan itu mi ayam akan laku. Benar saja, hari pertama, dua ratus mangkuk mi ayam jualan Wahyu tandas diserbu pembeli.

Namun, hasil itu tak turun dari langit secara tiba-tiba. Wahyu mengaku, ia melakukan riset selama setahun sebelum memutuskan memulai bisnisnya.

“Saya riset setahun untuk mengetahui mi ayam itu gimana, kompetitornya bagaimana, harganya berapa, tempat dan pasarnya gimana,” ujar pria yang kerap gonta ganti pekerjaan ini mengenang.

Wahyu Indra, pendiri mie ayam grobakan
Wahyu Indra (42), pendiri dan pemilik usaha Mie Ayam Grobakan.

Halaman Selanjutnya
img_title