- VIVAnews/Muhamad Solihin
Menurut dia, partai hanya didirikan dan disediakan untuk buruh dalam Pemilu, tanpa mengorganisasi buruh dengan konkret. “Tapi, itu semua memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Dan tentu saja teman-teman yang sedang menggalang sebuah partai buruh. Jangan mengulangi kesalahan yang sama,” katanya.
Sementara itu, menurut Ilham, Muchtar Pakpahan memang sudah mendirikan Partai Buruh. Namun, partai ini terjungkal karena tak lolos ambang batas parlemen (electoral threshold) dan mengalami kesulitan keuangan.
Ia mengatakan, ada sejumlah hal yang mendasari kegagalan partai besutan aktivis buruh tersebut. Pertama, pembentukan partai tak melibatkan dan menyosialisasikan ke sesama buruh.
Bahkan, terjadi perpecahan di internal buruh, karena tak semua buruh mendukung. Kedua, Muchtar tidak menjadikan partai sebagai alat politik bersama.
“Dia juga tidak mengajak berbagai organisasi rakyat yang lain,” ujarnya. Selain itu, kesadaran politik buruh belum matang saat Muchtar mendirikan Partai Buruh.
Muchtar mengakui, ia gagal membangun Partai Buruh. Ia mengatakan, Partai Buruh gagal menanamkan ideologi dan kesadaran politik kepada buruh. Selain itu, mereka kesulitan dana.
Menurut dia, untuk mendirikan dan mengelola partai politik butuh dana yang tidak kecil, apalagi dalam Pemilu. “Untuk mengadakan saksi saja perlu Rp120 miliar, minimal,” ujarnya.
Selain itu, Partai Buruh tak memiliki media dan tak mampu beriklan di media massa. “Politik Indonesia itu butuh uang,” ia mengingatkan.
Ia juga menyesal telah bersikap kaku saat itu. Menurut dia, sikap tersebut membuat orang yang hendak bergabung dan membantu pendanaan Partai Buruh kabur.
Ia mengatakan, sempat ada pengusaha besar yang mau ikut dan membiayai partainya. Namun, si pengusaha meminta ia yang menentukan calon presiden.
“Sontak kawan saya marah. Sebetulnya itu ketidakcerdasan saya. Saya terlalu keras waktu itu,” ujarnya mengenang.
“Padahal bisa sedikit elastis. Kami bargain, tapi tetap punya kendali. Mungkin kami menang waktu itu. Karena ada yang biayai,” ujar ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Buruh ini.
![]()
Elemen buruh yang berniat mendirikan partai harus belajar dari kegagalan Partai Buruh. Saat itu, Partai Buruh gagal meyakinkan buruh sebagai basis massanya. FOTO: VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi