- VIVAnews/Muhamad Solihin
Menurut dia, sejumlah negara yang buruhnya sejahtera merupakan hasil perjuangan politik buruh. Ia mengatakan, gerakan buruh itu bergerak di tiga sisi yakni, di serikat buruhnya, politik, dan sisi ekonomi. Jika ketiganya berjalan serentak, ia yakin buruh akan sejahtera.
“Saya bersyukur jika kini kawan-kawan mengalami kesadaran itu,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 29 April 2015.
Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago juga sepakat dengan rencana buruh mendirikan partai politik sendiri. Menurut dia, hal itu diperlukan guna menjembatani antara aspirasi dan kehendak buruh dengan pemerintah.
Namun menurut dia, buruh harus belajar dari kegagalan partai buruh sebelumnya. Sebab, menurut dia, dalam pendirian partai buruh sebelumnya, buruh hanya dijadikan komoditas politik atau dimanfaatkan elite parpol. Mereka mengabaikan aspirasi dan kehendak buruh.
“Jangan sampai ada atau tidaknya partai buruh tak membawa kebaikan apa apa terhadap keadilan dan kesejahteraan buruh,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 29 April 2015.
Pengamat asal Universitas Islam Negeri Jakarta ini menambahkan, latar belakang buruh berniat mendirikan parpol karena alasan kekuasaan elite buruh, sebagai saluran untuk kelanjutan karier politik mereka. Selain itu, buruh menilai, partai yang ada tak mampu merepresentasikan kepentingan mereka.
“Ketiga, partai buruh dianggap partai yang bisa menampung aspirasi. Itu alasan mereka mendirikan partai, partai lain tak bisa diharapkan dan diandalkan,” ujar pria yang akrab disapa Ipang ini menambahkan.
![]()
Rencana buruh mendirikan partai sendiri merupakan sebuah keharusan, jika buruh ingin makmur dan sejahtera. FOTO: ANTARA/Adnan
Belajar dari Kegagalan
Ipang mengatakan, GBI dan elemen buruh lain yang berniat mendirikan partai harus belajar dari kegagalan Partai Buruh besutan Muchtar Pakpahan. Menurut dia, saat itu keberadaan Partai Buruh antara ada dan tiada.
Sebab, keberadaan partai tersebut tak begitu dirasakan manfaatnya oleh buruh. Partai Buruh tak mendapat empati dari buruh. Menurut dia, Partai Buruh gagal meyakinkan buruh sebagai basis massanya.
“Kalau partai buruh bisa mengelola basis, membentuk pemilih loyalis, dan melakukan kaderisasi yang matang, saya kira partai buruh tak akan menemui ajalnya alias bubar seperti pendirian Partai Buruh yang pernah diinisiasi Mukhtar Pakpahan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Lukman Hakim. Ia mengatakan, saat itu Partai Buruh belum berdiri pada kesadaran buruh. Selain itu, Partai Buruh dinilai tidak atau belum mampu menjangkau buruh dan menyadarkan mereka.