- VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar
Tujuan utama Husein bukan Indonesia, melainkan Malaysia. Ia bermaksud mencari perlindungan dan hidup di Negeri Jiran tersebut. Ia sudah ditunggu oleh sahabatnya yang sudah lebih dulu datang dan bekerja di Malaysia.
Namun, malang bagi Husein. Pergi dari kampung halamannya ternyata tak membuat nasibnya lebih baik.
Selama di dalam kapal yang mengangkut 582 orang Rohingya dan Bangladesh, ia dan pengungsi lain kerap dipukul oleh awak kapal. Mereka duduk berdempet-dempetan.
Kakinya harus ditekuk, menopang dada. Sisi kiri dan kanan, depan dan belakang penuh dengan barisan penumpang.
“Kalau ada yang bicara langsung dipukul sama asisten kapten. Saya termasuk yang dipukul di tangan. Sampai sekarang tangan saya masih sakit,” ujarnya sambil memperlihatkan bekas luka di lengannya.
Selama dua bulan lebih, Husein dan pengungsi lainnya dibakar matahari dan diguyur hujan. Tak hanya itu, mereka juga kekurangan makanan dan minuman.
Akibatnya, banyak pengungsi yang sakit karena kelaparan. “Delapan hari lebih kami tidak ada makanan, hanya minum air saja,” katanya.
Ditinggal di Lautan
Di tengah laut, kapten kapal memberitahukan, mereka sudah hampir tiba di Malaysia, tepatnya di dekat Singapura. Kemudian, kapten kapal bersama awaknya pergi meninggalkan kapal.
Alasannya, pamit sebentar. Mereka berjanji akan kembali lagi.
“Mereka berbohong. Mereka meninggalkan kami di tengah laut, tidak pernah balik lagi ke kapal. Kapten dijemput dengan boat kecil,” ujar Husein dengan raut wajah mengeras.
Berhari-hari, kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing di tengah lautan. Hingga akhirnya mereka ditemukan dan diselamatkan nelayan di perairan Seunuddon, Aceh Utara.
Husein tak sendiri. Nasib serupa juga dialami, Hasan Ali (33). Hasan terombang-ambing di lautan akibat ulah agen dan kapten kapal.
Hasan mengaku meninggalkan Myanmar karena ajakan seseorang yang tak ia kenal sebelumnya.
Orang itu sudah banyak mengajak warga lain untuk keluar dari Myanmar. Hasan langsung menerima ajakan itu.
Dia memang sudah lama ingin pergi meninggalkan negaranya. Mereka berangkat dari Desa Alkaf menuju Arakan bersama 7 orang temannya.
“Di sungai itu, sudah ada 13 orang bersama satu boat bisa memuat sekitar 20 sampai 25 orang,” kata Hasan kepada VIVA.co.id, Kamis, 21 Mei 2015.