- VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar
Demi mengantisipasi kedatangan para pengungsi, TNI menambah kekuatan untuk menggelar patroli di laut. “Saat ini ada peningkatan patroli. Selama ini hanya satu kapal perang, sekarang empat kapal perang.”
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam pernyataan Jenderal TNI Moeldoko. Mereka mendesak Pemerintah Indonesia menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia terhadap pengungsi dan pencari suaka asal etnis Rohingya.
Koordinator KontraS, Haris Azhar, menyarankan perlunya koordinasi antara institusi terkait, di antaranya Kementerian Luar Negeri, Kepolisian, TNI, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan.
Hal ini perlu dilakukan karena ketidakjelasan kebijakan antarinstitusi serta tidak adanya aturan standar penanganan pengungsi dan pencari suaka.
dan Juru bicara Kemenlu Armanatha Nasir mengatakan, kesepakatan itu merupakan hasil pertemuan antara Menlu Retno L.P Marsudi dengan Malaysia dan Thailand.
Diplomat yang akrab disapa Tata ini mengatakan, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada 7000 migran yang masih ada di laut.
Menurut dia, Indonesia dan Malaysia sepaham, migran dan Rohingya bukan hanya isu satu negara tapi merupakan isu regional dan internasional.
Atas Dasar Kemanusiaan
Sementara itu, Pemerintah Daerah Aceh berjanji akan membantu dan menolong para pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh ini. Bupati Aceh Utara Muhamad Thaib mengatakan, sebagai sesama manusia ia merasa berkewajiban untuk menolong sesama.
“Kita wajib membantu sesama manusia yang sedang mengalami kesulitan atau mendapatkan musibah tidak boleh memandang suku, agama dan ras,” ujar dia kepada VIVA.co.id, Rabu, 20 Mei 2015.
“Siapapun yang sampai di wilayah Aceh Utara, kami tetap menolong. Kami sebagai orang Aceh harus sadar, bahwa Aceh pernah mengalami masa-masa sulit seperti yang dirasakan oleh saudara kita dari Rohingnya,” ujarnya menambahkan.
Menurut dia, melalui Dinas Sosial Pemda telah memberikan bantuan awal untuk memulihkan para pengungsi ini dari trauma selama di laut. Selain itu, Pemda juga menyediakan dapur umum.
Bupati juga mengusahakan lokasi pengungsian yang lebih baik. “Awalnya mereka di GOR Lhoksukon, kemudian kami mencari tempat yang lebih nyaman dan lebih luas di TPI Kuala Cangkoy,” ujarnya.