- ANTARA FOTO/Maulana Surya
VIVA.co.id - Malam itu, Agustinus Tai Andamai (25) tampak tenang. Tersangka kasus pembunuhan Engeline (8) ini berbicara dengan lancar.
Sikap yang tak biasa. Tiap kali memberikan keterangan kepada polisi, biasanya ia berbicara terbata-bata. Tiga penyidik dari Kepolisian Daerah (Polda) Bali yang menginterogasinya, tak lagi membuat pria ini keder dan takut.
Di depan penyidik, Agus berbicara panjang lebar tentang kasus pembunuhan Engeline. Ia mengatakan bahwa sebenarnya pembunuh Engeline bukan dia, melainkan Margreit Christina Megawe, ibu angkat Engeline.
Pernyataan Agus ini membatalkan keterangan dia sebelumnya. Agus pernah menyatakan bahwa ia yang telah memperkosa dan membunuh Engeline.
Pemeriksaan yang dimulai pukul 20.00 Wita ini hanya berjalan sekitar dua jam. Penyidik hanya ingin mencocokkan keterangan Agus terbaru dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebelumnya. Pemeriksaan yang dilakukan pada Kamis malam, 18 Juni 2015 ini pun hanya dilakukan secara lisan.
Kuasa hukum Agus, Haposan Sihombing, mengatakan, penyidik mencecar kliennya dengan banyak pertanyaan. Sesekali, penyidik mengulang pertanyaan yang sama. Menurut Haposan, Agus membantah telah memperkosa dan membunuh Engeline.
Menurut Agus, Margreit yang telah membunuh bocah mungil itu. "Sebelumnya Agus mengatakan, jika dia yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Dalam pemeriksaan semalam, Agus mengatakan yang melakukan pembunuhan sesungguhnya Margreit, tempatnya di kamar Margreit," ujar Haposan saat berbincang dengan VIVA.co.id di Mapolda Bali, Kamis malam, 18 Juni 2015.
Haposan menuturkan, awalnya Agus mendengar Engeline berteriak. "Dia dengar Engeline berteriak, 'Sudah Ma. Jangan pukul aku Ma'," ujar Haposan menirukan. Selang tiga menit kemudian, Margreit memanggil Agus untuk masuk ke kamarnya.
Saat itu, Agus melihat Engeline sudah tergeletak tak bergerak di lantai. Agus diminta untuk mengubur jasad Engeline. "Dia hanya disuruh bantu untuk membungkus, mengambil boneka, mengambil sprei, selanjutnya mengangkat, mengubur, dan menutup kuburan tersebut," ujar Haposan.
Agus kemudian membawa jasad Engeline ke belakang rumah untuk dikubur di lubang yang telah disiapkan. Sebelum dikubur, Agus sempat diminta untuk menambah kedalaman lubang.
"Menurut Agus, Margreit juga ada di situ untuk menguburkan. Bahkan, Margreit ikut memutar jasad Engeline saat akan dikubur," Haposan menambahkan.
Agar tak dikenali, di atas kuburan Engeline ditaruh sampah. Saat itu, Agus diminta Margreit untuk tutup mulut. Majikannya mengancam, Agus tak bisa ke luar dari Pulau Bali, jika ia membongkar kasus pembunuhan tersebut.