SOROT 349

Kala Maut Merenggut Anak Pungut

Seorang siswa SD menyampaikan karangan bunga untuk Angeline
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Maulana Surya

Ia masuk ke kamar tersebut. Engeline kemudian meluapkan emosinya. "Dia berteriak sekeras-kerasnya atau dia nangis di kamar itu. Kamar itu sebenarnya kamar khusus untuk ayam yang sedang sakit," ujar Francky.

Francky juga mengaku miris dengan asupan gizi Engeline. Ia hanya diberi makan sekali dalam sehari. Itu pun dengan lauk seadanya.

img_title Anak-anak Indonesia dalam Bahaya

"Kalau dia kerjanya bagus, baiklah nasibnya. Dapat makan pagi dan malam. Tapi, kalau tidak, ya sekali saja makannya. Lauknya pun hanya bakwan jagung. Sementara, di dalam kulkas, banyak sekali daging ayam, daging sapi, ada ikan serta makanan bergizi lainnya. Tapi, itu untuk persediaan makanan anjing. Engeline ya makan bakwan jagung," ujarnya.

Yuliet Christien (41) istri Francky yang pernah tinggal di rumah Engeline pernah melihat luka lebam di tubuh Engeline. Luka lebam itu hampir merata di sekujur tubuh anak tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengetahui luka lebam tersebut saat Engeline naik ke lantai atas untuk bermain bersama Abel, anak Yuliet. "Ada banyak luka lebam. Tapi, dia tidak pernah bilang. Saya hanya dengar teriakan (Engeline) saja dari dalam kamarnya," ujar Yuliet di tempat yang sama.

Hal senada dituturkan Loraine (58), tante Francky dan Yuliet yang pernah tinggal tiga bulan di rumah Engeline. Engeline terlihat kumuh tiap hendak ke sekolah. Loraine mengatakan, suatu saat ia pernah melihat Engeline makan biskuit. Begitu dilihatnya, ternyata biskuit tersebut sudah kedaluwarsa.

"Sudah kedaluwarsa. Saya coba, rasanya tidak enak. Saya tanya, Engeline siapa yang kasih. Dia jawab, mama."

Hal serupa dialami Sri Wijayanti, salah satu guru Engeline. Ia mengatakan, sehari sebelum dilaporkan hilang, Engeline tampak biasa saja. Ia sempat menegur dan memeluknya. "Saya pegang tangannya kurus banget. Saya tegur, dia diam saja,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 16 Juni 2015.

Ia mengaku penasaran dengan situasi yang dialami Engeline di rumah. Dia menduga ada yang tak beres dalam keluarga Margreit. "Saya tegur soal dugaan dia kasar, menelantarkan Engel dan soal prestasi di sekolahnya. Dia ketus jawabnya. Dia bilang memang begitu cara dia mendidik Engel agar dia mandiri," katanya menambahkan.

Sri pernah memanggil Margreit untuk berbicara mengenai Engeline. Itu dilakukan sehari setelah ia lihat Engeline kumuh, bau, dan lemas saat tiba di sekolah. Sri bahkan memandikan dan membeli makanan untuknya. Kala memandikan itu, Sri terperangah demi melihat sekujur tubuh anak didiknya itu terdapat bekas luka lebam.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Negara Gagal Melindungi Anak?
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut