SOROT 349

Kala Maut Merenggut Anak Pungut

Seorang siswa SD menyampaikan karangan bunga untuk Angeline
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Maulana Surya

"Dia dijanjikan Rp200 juta yang akan dibayarkan pada 24 Mei. Tapi, sampai sekarang dia belum terima uang itu,” Haposan menerangkan.

Esoknya, 25 Mei 2015, Agus berhenti bekerja di rumah Margreit. Sejak saat itu, Agus terus mendapat teror melalui telepon genggamnya. "Agus sering diteror laki-laki. Dia tidak kenal dengan suara laki-laki itu. Dia diancam untuk tidak membongkar atau akan mati," kata Haposan.

Guna menutupi aksi kejinya, menurut Haposan, Margreit meminta Agus yang mengaku membunuh dan memperkosa Engeline.

img_title Rapat Paripurna Setujui RUU Pengaturan Reforma Agraria Jadi Usul Inisiatif DPR

"Pada saat itu, Margreit bilang kepada Agus, jika nanti kamu tertangkap, kamu harus mengaku kalau kamu yang memperkosa dan membunuh Engeline. Nanti, saya kasih imbalan Rp200 juta. Agus menolak, tapi Margreit bilang kamu ambil saja. Saya punya banyak 'orang' di Bali. Kalau kamu membocorkan, maka kamu tidak bisa ke luar dari Bali," Haposan menambahkan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Warga saksikan lokasi ditemukannya jenazah Angeline di Bali

img_title Desktop Seukuran Kotak Sepatu Ini Dibekali Superchip Nvidia, Data Pribadi Diklaim Aman
Lokasi ditemukannya jenazah Angeline di Jalan Sedap Malam, Kota Denpasar, Bali. Foto: Antara/ Fikri Yusuf


Dipicu soal Warisan
Misteri pembunuhan Engeline santer disebut terkait warisan. Haposan pun mengatakan, ia belum menanyakan kepada Agus apakah pembunuhan itu berkaitan dengan warisan seperti kabar yang beredar.

img_title Federasi Australia Kecewa Berat Ditekuk Timnas Indonesia U-20: Hasil Kualifikasi di Bawah Standar

"Sama sekali tidak ada. Di Polresta tidak ada sama sekali (Agus menyebut soal warisan). Saya tidak tahu kalau soal kesaksiannya di sini (Mapolda Bali). Di sini kan dia sebagai saksi, Polresta dia sebagai tersangka. Di BAP juga tak disinggung soal itu,” ujarnya.

Kuasa hukum Margreit, Hotma Sitompul, menyatakan, kliennya difitnah. Fitnah itu merujuk kepada pernyataan sejumlah pihak bahwa Margreit tega menghabisi nyawa anak angkatnya sendiri karena berebut warisan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Soal warisan tidak ada itu. Dari mana warisan itu. Nanti kami minta tanggung jawab siapa yang bicara warisan itu," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 18 Juni 2015.

Hotma menegaskan, pengangkatan Engeline sebagai anak merupakan inisiatif kliennya, bukan dari almarhum Douglas Bruce Scarborrough, suami Margreit. Hotma juga membantah jika Douglas telah membuat surat wasiat yang isinya mengenai pembagian harta warisan.

"Almarhum suami Ibu Margreit tidak pernah membuat wasiat kepada siapa pun, termasuk klien kami dan anak-anaknya," ujar Hotman.

Meski dibantah, kepolisian terus mendalami kasus ini, termasuk kemungkinan adanya motif rebutan warisan dalam pembunuhan Engeline. Spekulasi soal motif warisan di balik pembunuhan Engeline merebak sehari sejak bocah ayu itu ditemukan tewas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut