SOROT 349

Kala Maut Merenggut Anak Pungut

Seorang siswa SD menyampaikan karangan bunga untuk Angeline
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Maulana Surya

Dugaan soal warisan antara lain disampaikan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. "Dalam dialog dengan Polda Bali, mereka menyimpulkan adanya persekongkolan jahat oleh ibu angkat, dua kakak angkat, dan pekerja rumah tangga," kata Arist beberapa waktu lalu.

Selain itu, dalam surat pengakuan pengangkatan anak yang dibuat antara orang tua kandung Engeline, Achmad Rosidik dan Margreit pada 24 Mei 2007, persoalan warisan juga dicantumkan. Berdasarkan surat yang telah beredar luas itu, Engeline disebut akan ikut menjadi ahli waris orang tua angkatnya.

Kabid Humas Polda Bali Komisaris Besar Hery Wiyanto membenarkan, polisi memang tengah berupaya menelusuri kaitan antara harta warisan dengan kematian Engeline. "Segala informasi kami perdalam, kami kembangkan," ujar Hery kepada VIVA.co.id, Selasa, 16 Juni 2015.

Selain itu, polisi sedang mendalami perihal ancaman yang diterima Agus. "Makanya kami telusuri kaitan ancaman ini dengan kasus Agus." Hery mengatakan, ancaman itu bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar kasus pembunuhan Engeline.

img_title Anak-anak Indonesia dalam Bahaya

Hotma Sitompul saat pemeriksaan 2 anak kandung margriet

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kuasa hukum Margreit, Hotma Sitompul, menyatakan, kliennya difitnah. Foto: TvOne

img_title Negara Gagal Melindungi Anak?

Korban Kemiskinan

Engeline dipungut Margreit sejak delapan tahun lalu. Anak malang ini berpindah tangan, tak lama setelah ia dilahirkan Hamidah, ibu kandungnya. Ayah kandung Engeline, Rosidik (29) mengatakan, ia dan istrinya terpaksa merelakan Engeline diadopsi orang karena tak punya uang untuk membayar biaya persalinan.

"Waktu itu, saya memang tak bisa membayar biaya persalinan," kata Rosidik kepada VIVA.co.id, Rabu, 17 Juni 2015.

Ia menuturkan, tiga hari setelah istrinya melahirkan, tetangganya memperkenalkan dia dengan Margreit. "Dia bilang begini. Mas, daripada sampeyan tidak bisa bayar, ayo dah saya temuin sama orang yang bisa menanggung biaya. Ada yang mau bantu, dia kepengen punya momongan katanya," Rosidik mengenang.

Setelah berpikir dengan seksama, Rosidik akhirnya menerima tawaran tersebut. Harapannya cuma satu, proses administrasi bisa segera diselesaikan. Rosidik kemudian bertemu Margreit. Biaya persalinan sebesar Rp800 ribu dan pengobatan Rp1 juta dibayar tunai oleh Margreit.

Rosidik mengaku tak mengerti perihal perjanjian adopsi anaknya tersebut. Ia hanya menurut. "Kami waktu adopsi buat perjanjian. Dia mau merawat seperti anak sendiri, mendidik dan lain sebagainya. Dalam perjanjian itu, jika usia Engeline 18 tahun saya baru boleh datang menemuinya untuk menjelaskan jika saya adalah ayah kandungnya," dia menjelaskan.

Waktu usia Engeline masih bilangan bulan, Rosidik mengaku pernah mendatangi rumah Margreit. Ia datang untuk melihat kondisi anaknya. "Saya pernah datang ke rumah Margreit untuk melihat Engeline. Tapi dibilangnya Engeline sedang tidur terus. Saya tidak bisa menemui Engeline."

Hingga Engeline mengembuskan napas terakhir, Rosidik belum pernah bertemu anak kandungnya itu. "Sampai sekarang saya belum pernah menemui anak saya. Saya dibilang sering minta uang ratusan juta, saya bantah. Tidak benar itu. Bohong. Demi Tuhan itu bohong. Jengkel sekali saya dibilang begitu. Saya ke sana saja tidak dikasih kok," ujarnya dengan nada marah.

Nasib Engeline ternyata tak seindah janji Margreit kepada orangtua kandungnya. Bekas pembantu Margreit, Francky Alexander Maringka (46) mengatakan, perlakuan Margreit terhadap Engeline sangat buruk.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Bukan Soal Fisik, Ini Alasan Andre Taulany Mantap Nikahi Amanda Rigby
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut